Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa asy-Syarī‘ah wa al-Manhaj karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, tafsir QS. Ar-Ra‘d ayat 17-19.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌ ۢ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۗوَمِمَّا يُوْقِدُوْنَ عَلَيْهِ فِى النَّارِ ابْتِغَاۤءَ حِلْيَةٍ اَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهٗ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ەۗ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاۤءً ۚوَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضِۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ ۗ * لِلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنٰىۗ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَهٗ لَوْ اَنَّ لَهُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لَافْتَدَوْا بِهٖ ۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ سُوْۤءُ الْحِسَابِ ەۙ وَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗوَبِئْسَ الْمِهَادُ ࣖ * ۞ اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ
Dia telah menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah air itu di lembah-lembah sesuai dengan ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buih seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang hak dan batil. Buih akan hilang tidak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di dalam bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya (taat kepada Allah dan Rasul-Nya, disediakan) balasan yang terbaik (surga). (Sebaliknya, bagi) orang-orang yang tidak memenuhi seruan-Nya, sekiranya mereka memiliki semua yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak itu lagi, niscaya mereka akan menebus dirinya (dari azab Allah pada hari Kiamat) dengan (hartanya) itu. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan hisab (perhitungan) yang buruk, tempat kediamannya adalah (neraka) Jahanam, dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman. Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal sehat sajalah yang dapat mengambil pelajaran. (Ar-Ra‘d [13]:17 – 19)
Keterkaitan Ayat (munāsabah)
Setelah Allah Ta’ala menyebutkan adanya dua seruan, yaitu seruan kebenaran dan seruan kebatilan, serta bahwa seruan Allah adalah seruan yang benar dan seruan kepada apa yang mereka sembah selain-Nya adalah seruan yang batil; dan setelah Allah mengibaratkan orang beriman dan orang kafir, serta iman dan kekafiran, dengan orang yang melihat dan orang yang buta, serta cahaya dan kegelapan, maka Allah menyebutkan perumpamaan lain bagi iman dan kekafiran.
Allah menjelaskan perumpamaan bagi kebenaran dan para pengikutnya, serta kebatilan dan golongannya. Dia menjadikan perumpamaan kebenaran dan para pengikutnya dalam keteguhan dan kelanggengannya seperti air yang turun dari langit lalu memberi manfaat bagi bumi dan manusia, dan seperti logam yang dimanfaatkan untuk membuat perhiasan, bejana, dan berbagai alat.
Adapun kebatilan, Allah menjadikannya sebagai perumpamaan bagi sesuatu yang memudar, lenyap, cepat hilang, dan tidak memiliki manfaat; seperti buih banjir yang dibuang, dan seperti terak logam yang mengapung di atasnya ketika logam itu dilebur.
Tafsir dan Penjelasan:
Ayat pertama mengandung dua perumpamaan bagi kebenaran, yaitu Al-Qur’an atau iman, dalam keteguhan, kelanggengan, dan manfaatnya; serta bagi kebatilan, yaitu kekafiran, dalam kepunahan dan lenyapnya. Allah Ta’ala berfirman:
أَنْزَلَ مِنَ السَّماءِ…
“Dia telah menurunkan air dari langit…”.
Yakni Allah Ta’ala menurunkan hujan dari awan, lalu setiap lembah menampung air sesuai ukurannya, besar atau kecil. Ini merupakan isyarat kepada hati manusia dan perbedaan tingkat kemampuannya dalam menerima iman, ada yang luas dan ada yang sempit.
Kemudian arus air yang terkumpul dari hujan itu membawa buih yang mengambang tinggi di atasnya. Inilah perumpamaan pertama bagi kebenaran dan kebatilan, atau bagi iman dan kekafiran.
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan perumpamaan yang kedua:
وَمِمّا يُوقِدُونَ.
“Dan dari apa yang mereka lebur dalam api…”. Yakni, perumpamaan kebenaran atau iman adalah seperti logam yang bermanfaat, seperti emas, perak, besi, tembaga, dan semisalnya, yang dipisahkan dari tanah dan kotoran melalui proses peleburan dengan api, agar dapat dijadikan perhiasan, bejana, senjata, atau berbagai peralatan yang bermanfaat.
Sedangkan kotoran dan unsur-unsur asing yang mengapung di permukaan saat logam itu mencair merupakan perumpamaan bagi kebatilan.
كَذلِكَ يَضْرِبُ اللهُ الْحَقَّ وَالْباطِلَ
“Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil.” Yakni, perumpamaan yang telah disebutkan itu adalah perumpamaan bagi kebenaran dan kebatilan ketika keduanya bertemu.
Kebenaran, dalam keteguhan dan manfaatnya, adalah seperti air yang menetap dan bermanfaat, serta seperti logam murni yang bersih. Adapun kebatilan, dalam lenyapnya dan tidak adanya manfaat padanya, adalah seperti buih yang dilemparkan arus air ke tepi-tepinya, dan seperti kotoran logam saat logam itu dilebur.
Maka kebatilan tidak akan bertahan di hadapan kebenaran.
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan lenyap dan hilangnya kebatilan dengan firman-Nya: {فَأَمَّا الزَّبَدُ}. Artinya, buih yang mengapung di atas air akan tercerai-berai, lenyap, dan pergi ke tepi-tepi aliran, lalu menempel pada kedua sisinya, kemudian diterbangkan oleh angin. Adapun yang bermanfaat dari air dan logam, maka tetap menetap di bumi. Air diminum dan digunakan untuk mengairi tanaman, sedangkan logam dimanfaatkan baik sebagai perhiasan maupun untuk membuat bejana, senjata, dan berbagai peralatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang besi:
وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia. (Al-Ḥadīd [57]:25)
{كَذلِكَ يَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثالَ}
Artinya, sebagaimana Dia telah menjelaskan kepada kalian perumpamaan-perumpamaan ini, demikian pula Dia membuat berbagai perumpamaan yang jelas untuk menerangkan perbedaan-perbedaan antara pokok-pokok akidah yang mendasar, yaitu antara iman dan kekafiran, serta antara kebenaran dan kebatilan.
Kesimpulannya, Al-Qur’an yang di dalamnya terwujud kebenaran dan cahaya iman, perumpamaannya dalam menghidupkan hati adalah seperti air yang menghidupkan bumi setelah kematiannya, dan seperti logam murni yang bersih yang memberikan banyak manfaat bagi manusia. Adapun kekafiran, kesesatan-kesesatan syirik, dan batilnya keyakinan orang-orang musyrik, maka semuanya tidak memiliki manfaat dan cepat lenyap. Ia segera tercerai-berai, seperti buih air dan sampah banjir yang sirna dan diterbangkan oleh angin, serta seperti kotoran logam yang disingkirkan dan dibuang ke samping.
Tidaklah perumpamaan yang indah ini dibuat melainkan demi kebaikan manusia, yang harus mempertimbangkan bagaimana akhir urusannya dan apa yang menantinya berupa kebahagiaan atau kesengsaraan di akhirat. Maka apabila Hari Kiamat tiba dan manusia beserta amal-amal mereka dihadapkan kepada Rabb mereka, kebatilan akan lenyap dan sirna, sedangkan para pemilik kebenaran akan memperoleh manfaat dari kebenaran itu.
Dan sungguh Allah Ta’ala telah membuat di awal Surah Al-Baqarah dua perumpamaan bagi orang-orang munafik, yaitu perumpamaan dengan api dan air. Allah Ta’ala berfirman:
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّآ اَضَاۤءَتْ مَا حَوْلَهٗ ذَهَبَ اللّٰهُ بِنُوْرِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمٰتٍ لَّا يُبْصِرُوْنَ
Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api. Setelah (api itu) menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(Al-Baqarah [2]:17)
Kemudian Dia berfirman:
اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌۚ يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِۗ وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ
Atau, seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit yang disertai berbagai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya (untuk menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.
(Al-Baqarah [2]:19)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat dua perumpamaan bagi orang-orang kafir dalam Surah An-Nur. Dia berfirman:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ
Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (Sebaliknya,) ia mendapati (ketetapan) Allah (baginya) di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna. Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
(An-Nūr [24]:39)
Fatamorgana itu muncul pada saat panas yang sangat terik.
Kemudian Dia berfirman:
اَوْ كَظُلُمٰتٍ فِيْ بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَّغْشٰىهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ سَحَابٌۗ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍۗ اِذَآ اَخْرَجَ يَدَهٗ لَمْ يَكَدْ يَرٰىهَاۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْرٍ ࣖ
Atau, (amal perbuatan orang-orang yang kufur itu) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang yang di atasnya ada awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya, ia benar-benar tidak dapat melihatnya. Siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.
(An-Nūr [24]:40)
Dan dalam Sunnah juga terdapat perumpamaan-perumpamaan yang serupa. Nabi ﷺ menyerupakan keadaan orang-orang yang mengambil manfaat dari sunnah beliau dengan keadaan tiga jenis tanah yang ditimpa air hujan.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إن مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل غيث أصاب أرضا، فكان منها طائفة قبلت الماء، فأنبتت الكلأ والعشب الكثير، وكانت منها أجادب أمسكت الماء، فنفع الله بها الناس، فشربوا ورعوا وسقوا وزرعوا، وأصابت طائفة منها أخرى إنما هي قيعان، لأتمسك ماء، ولا تنبت كلأ، فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه الله بما بعثني ونفع به، فعلم وعلم، ومثل من لم يرفع بذلك رأسا ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به
“Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah seperti hujan yang turun mengenai suatu tanah. Sebagian tanah itu ada yang menerima air, lalu menumbuhkan rerumputan dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Sebagiannya lagi berupa tanah tandus yang menahan air, sehingga Allah memberi manfaat dengannya kepada manusia; mereka minum darinya, memberi minum ternak, dan bercocok tanam dengannya. Dan hujan itu juga mengenai bagian tanah yang lain, yang hanya berupa dataran keras, tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah lalu Allah memberinya manfaat dengan apa yang aku bawa, sehingga ia belajar dan mengajarkan. Dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap hal itu serta tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.”
Ini adalah perumpamaan yang berkaitan dengan air, yang serupa dengan perumpamaan yang Allah Ta’ala berikan tentang orang-orang munafik.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:
مثلي ومثلكم كمثل رجل استوقد نارا، فلما أضاءت ما حوله، جعل الفراش وهذه الدواب التي يقعن في النار، يقعن فيها، وجعل يحجزهن ويغلبنه، فيقتحمن فيها، فذلك مثلي ومثلكم أنا آخذ بحجزكم عن النار، هلّم عن النار، فتغلبوني، فتقتحمون فيها
“Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekelilingnya, laron-laron dan serangga-serangga yang jatuh ke dalam api mulai berjatuhan ke dalamnya. Orang itu berusaha menahan mereka, tetapi mereka mengalahkannya lalu menerobos masuk ke dalam api. Demikianlah perumpamaanku dan perumpamaan kalian. Aku memegang ikat pinggang kalian agar tidak masuk ke dalam neraka. Kemarilah, jauhilah neraka! Tetapi kalian mengalahkanku, lalu menerobos masuk ke dalamnya.”
Ini adalah perumpamaan tentang api. Nabi ﷺ menjelaskan di dalamnya besarnya keinginan beliau untuk menjauhkan umatnya dari neraka, sementara sebagian mereka berjatuhan ke dalamnya sebagaimana laron-laron berjatuhan. Ini seperti perumpamaan yang Allah buat bagi orang-orang munafik.
Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan, sebagai lanjutan dari pembicaraan, nasib orang-orang yang benar dan orang-orang yang batil, serta kesudahan orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang sengsara, sebagai dorongan dan peringatan. Maka Dia berfirman, {لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا}. Maksudnya, surga diperuntukkan bagi orang-orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya, tunduk kepada perintah-perintah-Nya, serta membenarkan berita-berita-Nya yang telah lalu maupun yang akan datang. Bagi mereka balasan yang baik, kenikmatan surga, dan pahala yang agung. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌ
Bagi orang-orang yang berbuat baik (ada pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). (Yūnus [10]:26)
Dan firman-Nya:
وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ
Adapun orang yang beriman dan beramal saleh mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.” (Al-Kahf [18]:88)
{وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا}
Maksudnya, orang-orang yang tidak menaati Allah dan Rasul-Nya, tidak akan bermanfaat bagi mereka pada hari akhir penebusan dengan seluruh apa yang ada di dunia dan yang semisal dengannya lagi. Maksudnya, di negeri akhirat mereka tidak mungkin menebus diri dari azab Allah dengan emas sepenuh bumi dan sebanyak itu lagi. Sekiranya mereka memiliki semua itu, niscaya mereka akan menebus diri dengannya. Akan tetapi, Allah tidak akan menerimanya dari mereka, karena Dia tidak menerima dari mereka pada hari Kiamat ṣarf maupun ‘adl, yaitu tebusan dan tobat.
Mereka itulah orang-orang yang tidak menaati Allah. Bagi mereka azab yang buruk di negeri akhirat, dan mereka akan dihisab atas seluruh apa yang telah mereka kerjakan; tidak ada satu pun yang diampuni darinya. Barang siapa yang diperiksa hisabnya secara rinci, maka ia akan diazab. Tempat kembali mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat menetap bagi mereka. Dalam hal ini terdapat ancaman yang sangat keras dan peringatan yang sangat besar, karena kelalaian mereka dalam mengikuti perintah-perintah Rabb mereka, mendekatkan diri kepada-Nya, serta tenggelam dalam syahwat-syahwat mereka.
Kemudian turunlah firman Allah ini mengenai Hamzah radhiyallahu ‘anhu dan Abu Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas, yaitu firman Allah Ta’ala:
{أَفَمَنْ يَعْلَمُ}
Maksudnya, tidaklah sama orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu, wahai Muhammad, dari Tuhanmu adalah kebenaran yang tidak ada keraguan dan tidak ada kesamaran padanya. Bahkan seluruhnya adalah kebenaran; berita-beritanya semuanya benar, dan perintah serta larangan-larangannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًا
Telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan (mengandung) kebenaran dan keadilan. (Al-An‘ām [6]:115)
Tidaklah sama orang yang membenarkan apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang yang tidak membenarkannya, yang buta sehingga tidak dapat melihat, tidak memperoleh petunjuk kepada kebaikan, dan tidak memahaminya. Kalaupun ia memahaminya, ia tidak akan tunduk kepadanya, tidak akan membenarkannya, dan tidak akan mengikutinya.
Sesungguhnya yang mengambil manfaat dari perumpamaan-perumpamaan ini, mengambil pelajaran darinya, menerima nasihat, dan memahaminya hanyalah orang-orang yang memiliki akal yang sehat, pemikiran yang benar, dan pendapat yang lurus.
Ayat yang semakna dengan ayat ini adalah firman Allah Ta’ala:
لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga. Penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (Al-Ḥasyr [59]:20)
Fiqih Kehidupan atau Hukum-Hukum:
Ayat-ayat ini menjelaskan tiga perkara:
- Menyerupakan kebenaran dan iman dengan air yang menetap serta logam yang murni lagi bersih, dan menyerupakan kebatilan dan kekufuran dengan buih yang mengapung di atas air. Buih itu akan lenyap dan tersangkut di tepi-tepi lembah, lalu diterbangkan oleh angin. Atau menyerupakannya dengan kotoran yang mengapung di atas logam yang dilebur. Demikian pula kekufuran beserta syubhat dan khayalannya akan hilang dan lenyap, sedangkan yang tetap adalah air yang jernih dan logam yang murni.
Kedua perumpamaan yang Allah buat tentang tetapnya kebenaran dan lenyapnya kebatilan ini mengarahkan perhatian kepada akibat dari segala perkara.
Dan dikatakan pula, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud adalah penyerupaan Al-Qur’an dan apa yang masuk darinya ke dalam hati dengan hujan, karena luasnya kebaikan dan kekalnya manfaatnya. Hati-hati diserupakan dengan lembah-lembah; Al-Qur’an masuk ke dalam hati sebagaimana air masuk ke dalam lembah, sesuai dengan luas atau sempitnya masing-masing.
- Bagi orang-orang yang taat, yaitu orang-orang yang berbahagia yang memenuhi seruan Allah kepada tauhid dan kenabian, tersedia balasan yang baik, yaitu kemenangan di dunia dan kenikmatan yang kekal di akhirat kelak.
Adapun bagi orang-orang yang durhaka, yaitu orang-orang yang celaka yang tidak memenuhi seruan untuk beriman kepada kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak akan mampu menebus diri mereka di akhirat dengan emas sepenuh bumi dan sebanyak itu lagi. Bagi mereka azab yang buruk; tidak ada satu pun kebaikan yang diterima dari mereka, dan tidak ada satu pun keburukan mereka yang diampuni. Tempat tinggal dan tempat menetap mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk hamparan yang mereka sediakan bagi diri mereka sendiri. Inilah empat macam azab dan hukuman: tidak diterimanya tebusan, menghadapi hisab yang buruk, tempat kembali mereka adalah Jahanam, dan seburuk-buruk tempat tinggal adalah tempat tinggal mereka.
- Perumpamaan lain tentang orang mukmin dan orang kafir. Diriwayatkan bahwa ayat ini turun mengenai Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu dan Abu Jahal—semoga Allah menghinakannya. Orang mukmin yang beriman kepada wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, meyakini kebenarannya, dan mengamalkan apa yang disampaikan kepadanya darinya, dialah orang yang memiliki pandangan yang jelas, sadar, dan berakal. Adapun orang kafir adalah orang yang tidak mengetahui agama dan buta hatinya. Orang-orang yang berakal adalah mereka yang mengambil pelajaran dan menjadikannya sebagai peringatan.