Tadabbur QS. Ibrahim Ayat 7

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Ibrāhīm [14]:7)

Tadabbur

  1. Bertambahnya Nikmat Tidak Selalu Berupa Bertambahnya Sesuatu

Betapa banyak bertambahnya kenikmatan justru berupa berkurangnya pemberian, dan betapa banyak bertambahnya pemberian justru berupa berkurangnya keadaan hati. Yang menjadi ukuran adalah apa yang Allah tambahkan kepadamu dalam kedekatan kepada-Nya, bukan apa yang Dia tambahkan kepadamu dalam kepemilikan.

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. (Ibrāhīm [14]:7)

Tambahan Allah tidak harus berupa harta, kesehatan, jabatan, atau kesenangan. Bisa berupa hati yang lebih tunduk, iman yang lebih kuat, dosa yang lebih sedikit, atau tawakal yang lebih dalam.

  1. Nikmat Yang Tidak Disyukuri Dapat Berubah Menjadi Sebab Kehilangan

Apabila engkau tidak menunaikan hak nikmat, nikmat itu menjadi hujah atasmu. Namun apabila engkau menunaikan haknya, ia menjadi jalan bagimu menuju tambahan.

وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras. (Ibrāhīm [14]:7)

Ibn Katsir menjelaskan: “Yaitu kalian kufur terhadap nikmat-nikmat tersebut, menutupinya, dan menyangkalnya.”

Maka kufur nikmat bukan hanya mengatakan, “Saya tidak mendapatkan apa-apa.” Kadang seseorang memperoleh begitu banyak, tetapi karena matanya terus melihat apa yang belum dimiliki, ia tidak pernah melihat apa yang telah Allah berikan.

Leave a Comment