Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa asy-Syarī‘ah wa al-Manhaj karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, tafsir QS. Ar-Ra‘d ayat 20-24.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَۙ * وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ ۗ * وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ * جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ * سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ
(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak membatalkan perjanjian. Orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan (seperti silaturahmi), takut kepada Tuhannya, dan takut (pula) pada hisab yang buruk. Orang-orang yang bersabar demi mencari keridaan Tuhan mereka, mendirikan salat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, dan membalas keburukan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga-surga ‘Adn. Mereka memasukinya bersama orang saleh dari leluhur, pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan mereka, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu. (Malaikat berkata,) “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu) karena kesabaranmu.” (Itulah) sebaik-baiknya tempat kesudahan (surga). (Ar-Ra‘d [13]:20 – 24)
Keterkaitan Ayat:
Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu menjelaskan sifat-sifat terpuji Ulul Albab, atau sifat-sifat yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:
اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ
Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal sehat sajalah yang dapat mengambil pelajaran. (Ar-Ra‘d [13]:19)
Barang siapa memiliki sifat-sifat tersebut, maka baginya kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Tafsir dan Penjelasan:
Allah Ta’ala menjelaskan sifat-sifat Ulul Albab dari kalangan orang-orang beriman yang telah meyakini kenabian Nabi Muhammad ﷺ dan meyakini bahwa apa yang diturunkan kepada beliau adalah kebenaran. Allah menyifati mereka dengan sifat-sifat berikut:
- Menepati Janji:
Yaitu orang-orang yang menepati apa yang telah mereka ikrarkan atas diri mereka, berupa pengakuan terhadap rububiyah Allah Ta’ala, serta memenuhi segala perjanjian antara mereka dengan Tuhan mereka dan antara mereka dengan sesama manusia.
Yang dimaksud dengan janji Allah ialah segala sesuatu yang telah ditegakkan dalil atas kebenarannya, baik dalil akal maupun dalil syariat. Kata janji di sini merupakan isim jenis, yakni mencakup seluruh kewajiban yang Allah tetapkan, yaitu segala perintah dan larangan-Nya yang diwasiatkan kepada hamba-hamba-Nya. Termasuk di dalamnya melaksanakan seluruh kewajiban dan menjauhi seluruh kemaksiatan.
- Tidak Melanggar Perjanjian:
Yaitu mereka tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban yang terkandung dalam perjanjian beserta segala konsekuensinya. Mereka tidak melanggar perjanjian iman dengan Tuhan mereka, dan tidak pula mengingkari akad-akad yang mereka buat dengan sesama manusia, seperti jual beli dan berbagai bentuk muamalah lainnya. Dengan demikian, mereka tidak menjadi seperti orang-orang munafik, yang apabila berjanji mereka berkhianat, apabila berselisih mereka melampaui batas, apabila berbicara mereka berdusta, dan apabila diberi amanah mereka berkhianat.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.”
Dalam riwayat lain disebutkan ada empat tanda, di antaranya:
وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر
“Apabila mengadakan perjanjian, ia berkhianat, dan apabila berselisih, ia melampaui batas.”
Menurut pendapat mayoritas ulama, tidak melanggar perjanjian maknanya hampir sama dengan menepati janji. Keduanya merupakan dua konsep yang saling berkaitan, meskipun berbeda. Penyebutan larangan melanggar perjanjian secara khusus bertujuan untuk lebih menegaskannya. Atau, hal itu merupakan bentuk penyebutan yang umum setelah penyebutan yang khusus.
Qatadah berkata, “Allah menyebutkan perintah menepati janji dan perjanjian di lebih dari dua puluh tempat dalam Al-Qur’an sebagai bentuk perhatian terhadap perkara ini dan penegasan akan pentingnya kedudukannya.”
- Menyambung Silaturahmi dan Menunaikan Seluruh Hak yang Wajib bagi Allah dan Sesama Manusia:
Yaitu orang-orang yang menyambung segala sesuatu yang Allah perintahkan untuk disambung dan melarang untuk diputus, baik yang berkaitan dengan hak-hak Allah, di antaranya mendukung dan menolong Nabi Muhammad ﷺ dalam berjihad, maupun yang berkaitan dengan hak-hak sesama manusia, di antaranya menyambung tali silaturahmi.
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
من أحبّ أن يبسط له في رزقه، وينسأ له في أثره، فليصل رحمه
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
Di antaranya juga berbuat baik kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan serta memberikan berbagai kebaikan.
Sifat ini disebutkan secara khusus, padahal telah tercakup dalam dua sifat sebelumnya, sebagai penegasan dan agar tidak ada anggapan bahwa menepati janji hanya terbatas pada hubungan antara manusia dengan Allah Ta’ala.
- Takut kepada Allah:
Mereka takut kepada Rabb mereka dalam segala yang mereka kerjakan maupun yang mereka tinggalkan. Mereka senantiasa merasa diawasi oleh Allah dalam semua itu.
Khasyyah adalah rasa takut yang disertai pengagungan dan pengetahuan terhadap Zat yang ditakuti. Oleh karena itu, Allah mengkhususkan para ulama dengan tingkat khasyyah yang lebih besar. Allah berfirman:
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا
Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. (Fāṭir [35]:28)
- Takut terhadap Azab:
Mereka takut akan buruknya hisab di akhirat. Mereka khawatir terhadap pemeriksaan hisab yang rinci, karena siapa yang dihisab secara rinci akan diazab. Mereka menghisab diri mereka sendiri sebelum dihisab, sebab hisab mencakup segala sesuatu, baik yang kecil maupun yang besar. Barang siapa takut terhadap hisab, niscaya ia akan bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Perlu diperhatikan bahwa sifat yang keempat menunjukkan rasa takut kepada Allah. Hal ini mengandung makna takut yang disertai pengagungan, kewibawaan, dan keagungan-Nya. Adapun sifat yang kelima menunjukkan rasa takut terhadap buruknya hisab.
- Sabar:
Yaitu menahan diri terhadap sesuatu yang tidak disukai. Mereka bersabar dalam menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan menghadapi berbagai ujian. Mereka melaksanakan segala bentuk ketaatan dan kewajiban, menjauhi kemaksiatan, keburukan, dan kemungkaran, serta ridha terhadap qadha dan qadar ketika ditimpa musibah.
Kesabaran mereka dilakukan semata-mata untuk mengharap keridaan Allah عز وجل dan memperoleh pahala-Nya, bukan karena riya maupun ingin didengar orang lain.
- Mendirikan Salat:
Yaitu orang-orang yang mendirikan salat dengan menyempurnakan seluruh rukun dan syaratnya secara sempurna, disertai kekhusyukan hati kepada Allah Ta’ala sesuai dengan cara yang diridai-Nya.
- Berinfak di Jalan Kebaikan:
Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sesuai dengan keadaan. Mereka merahasiakan infaknya antara mereka dengan Tuhan mereka agar tujuan mereka bukan riya atau mencari pujian. Namun, terkadang mereka menampakkannya di hadapan orang lain apabila bertujuan memberi dorongan, pengajaran, dan teladan.
Infak tersebut mencakup infak yang wajib, seperti nafkah kepada istri, anak, dan kerabat yang fakir, maupun infak yang dianjurkan, seperti memberi kepada orang-orang fakir dan miskin yang bukan kerabat.
- Membalas Keburukan dengan Kebaikan:
Mereka membalas keburukan dengan kebaikan, seperti membalas kebodohan dengan sikap santun dan membalas gangguan dengan kesabaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.” (Al-Furqān [25]:63)
وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا
Dan, orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu serta apabila mereka berpapasan dengan (orang-orang) yang berbuat sia-sia, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya. (Al-Furqān [25]:72)
Mereka juga mengiringi keburukan dengan kebaikan agar dapat menghapuskannya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam riwayat Ahmad dari Abu Dzar:
إذا عملت سيئة، فاعمل بجنبها حسنة تمحها
“Apabila engkau melakukan suatu keburukan, maka lakukanlah di sampingnya suatu kebaikan yang akan menghapuskannya.”
Dalam riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan al-Baihaqi dari Abu Dzar disebutkan:
وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”
Yang benar adalah bahwa memperlakukan orang lain dengan akhlak yang mulia, baik kepada orang yang berbuat buruk maupun selainnya, lebih utama, lebih bermanfaat, dan lebih besar pengaruhnya. Sebab, hal itu dapat meredakan persoalan, menghilangkan kedengkian, dan menghasilkan akibat yang lebih baik.
Setelah Allah menjelaskan sifat-sifat mulia orang-orang beriman yang berakal tersebut, Dia menyebutkan balasan bagi mereka melalui firman-Nya, “Mereka itulah yang memperoleh kesudahan yang baik.” Maksudnya, orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan memperoleh balasan yang baik dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Adapun di dunia, mereka memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka, sedangkan di akhirat mereka memperoleh surga.
Kemudian Allah menjelaskan balasan yang baik itu melalui firman-Nya, “Yaitu surga-surga ‘Adn.” Maksudnya, balasan tersebut adalah surga-surga tempat mereka menetap untuk selama-lamanya.
Mereka akan memasukinya bersama pasangan, orang tua, dan keturunan mereka yang saleh dan beriman. Ayat ini menunjukkan bahwa tingginya derajat dapat diperoleh melalui syafaat. Penyebutan syarat saleh menunjukkan bahwa hubungan nasab semata tidaklah bermanfaat. Nasab tidak akan berguna jika tidak disertai amal saleh. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَلَآ اَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ وَّلَا يَتَسَاۤءَلُوْنَ
Apabila sangkakala ditiup, pada hari itu (hari Kiamat) tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka dan tidak (pula) mereka saling bertanya. (Al-Mu’minūn [23]:101)
Dan firman-Nya:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ * اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.(Asy-Syu‘arā’ [26]:88 – 89)
Nabi ﷺ bersabda kepada Fatimah ketika sakit yang mengantarkan kepada wafat beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi:
يا فاطمة بنت محمد، سليني من مالي ما شئت، لا أغني عنك من الله شيئا
“Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku dari hartaku apa saja yang engkau kehendaki. Namun, aku tidak dapat melindungimu sedikit pun dari azab Allah.”
Para malaikat datang kepada mereka ketika mereka memasuki surga melalui berbagai pintu seraya berkata, “Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian.” Maksudnya, semoga keselamatan yang abadi dan rahmat dari Tuhan senantiasa tercurah kepada kalian. Maka, sungguh sebaik-baik kesudahan adalah surga.
Firman-Nya, “Salam sejahtera,” mengandung kata yang dihilangkan, yaitu: “Dan mereka berkata, ‘Salam sejahtera atas kalian.'”
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Umamah, bahwa Nabi ﷺ setiap awal tahun mengunjungi kuburan para syuhada, lalu mengucapkan kepada mereka:
سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِما صَبَرْتُمْ، فَنِعْمَ عُقْبَى الدّارِ
“Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya kesudahan itu.”
Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Fiqih Kehidupan atau Hukum-Hukum:
Ayat-ayat ini menunjukkan hukum-hukum berikut:
- Wajib Menepati Janji:
Kewajiban ini mencakup seluruh hak Allah, seluruh kewajiban yang diperintahkan-Nya, serta hak-hak sesama manusia.
- Haram Melanggar Perjanjian dengan Allah maupun dengan Sesama Manusia:
Apabila seseorang telah mengadakan suatu perjanjian dalam rangka menaati Allah atau dengan sesama manusia, maka tidak boleh baginya melanggarnya.
- Wajib Menyambung Tali Silaturahmi dan Menunaikan Seluruh Hak Allah serta Hak-Hak Sesama Manusia:
Hal ini mencakup seluruh bentuk ketaatan, serta keimanan kepada seluruh kitab dan seluruh rasul.
- Takut terhadap Buruknya Hisab:
Yaitu takut terhadap hisab yang dilakukan secara rinci dan pemeriksaan yang mendalam. Barang siapa dihisab secara rinci, niscaya ia akan diazab, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah.
- Bersabar dengan Ikhlas karena Allah Ta’ala:
Yaitu bersabar dalam menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, serta menghadapi berbagai musibah, bencana, dan cobaan.
- Mendirikan Salat:
Yaitu menunaikannya dengan memenuhi seluruh kewajibannya, disertai kekhusyukan, dan dilaksanakan pada waktu-waktunya.
- Berinfak dengan Sebagian Harta, Baik Secara Sembunyi-sembunyi maupun Terang-terangan:
Yaitu dengan menunaikan zakat yang diwajibkan dan bersedekah secara sukarela di jalan Allah Ta’ala.
- Menolak Keburukan dengan Kebaikan:
Yaitu menolak keburukan dengan amal saleh, seperti menghiasi diri dengan akhlak yang mulia ketika menghadapi gangguan manusia; membalas kebodohan dengan sikap santun, membalas gangguan dengan kesabaran, membalas kejahatan dengan kebaikan, membalas kemungkaran dengan amar makruf, serta mengiringi keburukan dengan kebaikan agar menghapus bekasnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. (Hūd [11]:114)
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan al-Baihaqi dari Abu Dzar:
وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”
- Orang-Orang yang Berbahagia dan Taat Akan Memperoleh Balasan Akhirat:
Yaitu surga sebagai pengganti neraka. Pada hari akhir nanti hanya ada dua tempat kembali: surga bagi orang yang taat dan neraka bagi orang yang bermaksiat.
Surga-surga ‘Adn adalah bagian tengah surga, dan atapnya adalah Arsy ar-Rahman.
Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan:
إذا سألتم الله فاسألوه الفردوس، فإنه أوسط الجنة، وأعلى الجنة، وفوقه عرش الرحمن، ومنه تفجّر أنهار الجنة
“Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya surga Firdaus. Sesungguhnya Firdaus adalah bagian tengah surga, surga yang paling tinggi, di atasnya terdapat Arsy ar-Rahman, dan darinya memancar sungai-sungai surga.”
- Seorang Mukmin yang Saleh Akan Masuk Surga Bersama Orang Tua, Pasangan, dan Anak-Anaknya yang Beriman:
Mereka akan masuk surga apabila mereka beriman dengan benar dan beramal saleh, meskipun amal mereka tidak menyamai amal orang yang menjadi sebab berkumpulnya mereka. Syarat amal saleh di sini sebagaimana syarat iman.
Termasuk karunia Allah Ta’ala, pemuliaan terhadap orang beriman, dan balasan bagi orang yang taat adalah diberikannya kebahagiaan dengan berkumpul bersama kerabat-kerabatnya di surga dan hadirnya keluarga mereka bersama mereka di dalamnya.
Meskipun setiap orang masuk surga berdasarkan amalnya sendiri dari sisi keadilan Allah, namun mereka masuk surga karena rahmat Allah Ta’ala dari sisi karunia-Nya.
- Penyebutan Syarat Saleh dalam Firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka…”, menunjukkan bahwa hubungan nasab semata tidaklah bermanfaat.
Nasab tidak akan berguna sedikit pun apabila tidak disertai dengan amal saleh.
- Para Malaikat Datang Berbondong-bondong Melalui Berbagai Pintu Surga untuk Memberi Ucapan Selamat dan Kabar Gembira kepada Orang-Orang Beriman:
Mereka berkata kepada mereka, “Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya kesudahan itu.” Maksudnya, kalian telah diselamatkan dari berbagai bencana dan kesusahan. Atau, kalimat tersebut merupakan berita yang bermakna doa, yaitu: kami mendoakan agar keselamatan senantiasa menyertai kalian; semoga Allah selalu memberikan keselamatan kepada kalian. Hal ini juga mengandung pengakuan akan penghambaan kepada Allah.
Ucapan “Salam sejahtera atas kalian” diberikan karena kesabaran mereka dalam senantiasa menaati Allah dan menjauhi kemaksiatan. Maka, sungguh baik kesudahan negeri tempat kalian dahulu tinggal, yaitu dunia, karena di sanalah kalian beramal hingga memperoleh kenikmatan yang sekarang kalian rasakan.
Menurut Abdullah bin Salam, kata al-‘uqba di sini adalah isim (kata benda). Adapun menurut Abu Imran al-Jauni, maknanya adalah, “Sungguh baik kesudahan berupa surga sebagai pengganti neraka atau sebagai balasan setelah kehidupan dunia.”
- Sebagian Ulama Berdalil dengan Ayat Ini bahwa Malaikat Lebih Utama daripada Manusia.
Mereka berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup tingkatan kebahagiaan manusia dengan kedatangan para malaikat kepada mereka untuk memberikan salam, penghormatan, dan pemuliaan. Hal itu menunjukkan bahwa kedudukan malaikat lebih tinggi daripada manusia. Sebab, seandainya malaikat lebih rendah kedudukannya daripada manusia, niscaya kedatangan mereka untuk memberikan salam dan penghormatan tidak akan menjadi bukti atas tingginya derajat dan kemuliaan kedudukan manusia tersebut.