Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa asy-Syarī‘ah wa al-Manhaj karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, tafsir QS. Ar-Ra‘d ayat 40-43.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِنْ مَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِيْ نَعِدُهُمْ اَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ * اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا نَأْتِى الْاَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ اَطْرَافِهَاۗ وَاللّٰهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهٖۗ وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ * وَقَدْ مَكَرَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلِلّٰهِ الْمَكْرُ جَمِيْعًا ۗيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍۗ وَسَيَعْلَمُ الْكُفّٰرُ لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ * وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَسْتَ مُرْسَلًا ۗ قُلْ كَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْۙ وَمَنْ عِنْدَهٗ عِلْمُ الْكِتٰبِ
Sesungguhnya jika Kami perlihatkan kepadamu (Nabi Muhammad, semasa hidupmu di dunia) sebagian (siksaan) yang Kami ancamkan kepada mereka (tentu engkau akan melihat kedahsyatannya), atau (jika) Kami wafatkan engkau (sebelum itu), sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan, dan Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka). Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang yang ingkar kepada Allah), lalu Kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya) tanpa ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dia Maha Cepat perhitungan-Nya. Sungguh orang-orang sebelum mereka (kafir Makkah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap orang. Orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapakah tempat kesudahan (yang baik). Orang-orang yang kufur berkata, “Engkau (Nabi Muhammad) bukanlah seorang Rasul.” Katakanlah, “Cukuplah Allah dan orang yang menguasai ilmu al-Kitab menjadi saksi antara aku dan kamu.” (Ar-Ra‘d [13]:40-43).
Keterkaitan Ayat
Setelah sebelumnya Allah Ta‘ala menyebutkan usulan orang-orang musyrik agar diturunkan ayat-ayat serta permintaan mereka agar azab segera ditimpakan, di sini Allah menyebutkan kemungkinan terjadinya apa yang mereka ancamkan tersebut. Allah juga menjelaskan bahwa tugas Rasulullah ﷺ hanyalah menyampaikan syariat, sedangkan berbagai dampak dan tanda dari janji-janji tersebut telah tampak dan semakin kuat, ditandai dengan keberhasilan kaum Muslimin membuka dan menguasai berbagai penjuru bumi. Allah-lah yang menetapkan apa yang Dia kehendaki terhadap makhluk-Nya.
Kemudian Allah menjelaskan bahwa tipu daya orang-orang musyrik tersebut, maupun tipu daya orang-orang yang hidup sebelum mereka, sama sekali tidak akan membahayakan kaum Muslimin. Sebab, kemenangan pada akhirnya akan menjadi milik kaum Muslimin, sedangkan kekalahan dan azab akan menimpa pihak selain mereka.
Kemudian Allah membantah orang-orang Yahudi yang mengingkari kerasulan Nabi ﷺ dengan menegaskan bahwa Dia menjadi saksi atas kebenaran kerasulan beliau. Cukuplah kesaksian Allah serta kesaksian orang-orang yang beriman dari kalangan Ahli Kitab sebagai bukti kebenaran beliau.
Tafsir dan Penjelasan
Jika Kami memperlihatkan kepadamu, wahai Muhammad, ketika engkau masih hidup, sebagian dari kehinaan dan hukuman yang Kami janjikan kepada orang-orang musyrik yang menjadi musuhmu dan selain mereka, atau Kami mewafatkanmu sebelum memperlihatkan kepadamu hal tersebut, maka tugasmu hanyalah menyampaikan risalah Tuhanmu. Kami mengutusmu semata-mata untuk menyampaikan risalah Allah kepada mereka, dan engkau telah melaksanakan apa yang diperintahkan kepadamu.
Engkau tidak dibebani untuk membuat mereka menjadi baik dan mendapat petunjuk. Sesungguhnya Kamilah yang akan menghisab mereka dan memberikan balasan atas kebaikan maupun keburukan yang mereka kerjakan.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ * لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ * اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَۙ * فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَۗ * اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ * ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Akan tetapi, orang yang berpaling dan kufur, Allah akan mengazabnya dengan azab yang paling besar. Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali. Kemudian, sesungguhnya Kamilah yang berhak melakukan hisab (perhitungan) atas mereka.
(Al-Gāsyiyah [88]:21-26)
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنّا نَأْتِي الْأَرْضَ.
“Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi bumi?”
Maksudnya, apakah orang-orang musyrik di Makkah itu lupa atau masih meragukan bahwa Kami mendatangi bumi, lalu Kami membukanya untukmu, wahai Muhammad, wilayah demi wilayah? Engkau pun memperoleh kemenangan atas mereka, wilayah kekuasaan Islam semakin meluas, sedangkan wilayah kekufuran semakin menyempit. Manusia pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
اَفَلَا يَرَوْنَ اَنَّا نَأْتِى الْاَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ اَطْرَافِهَاۗ اَفَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ
Maka, tidakkah mereka melihat bahwa Kami mendatangi negeri (yang berada di bawah kekuasaan orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari ujung-ujungnya? Merekakah yang menang? (Al-Anbiyā’ [21]:44)
Ayat tersebut, jika ditinjau dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, menunjukkan bahwa bumi berbentuk bulat lonjong (elipsoid), bukan bola yang benar-benar sempurna, melainkan memiliki bentuk yang sedikit pepat pada bagian kutubnya.
Adapun dalam konteks masa lalu, yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah tampaknya kemenangan Islam atas kemusyrikan, dari satu negeri ke negeri lainnya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
وَلَقَدْ اَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِّنَ الْقُرٰى وَصَرَّفْنَا الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Sungguh, benar-benar telah Kami binasakan negeri-negeri di sekitarmu (penduduk Makkah) dan telah Kami ulang-ulang (jelaskan) tanda-tanda (kebesaran Kami) agar mereka kembali (dari kekufuran). (Al-Aḥqāf [46]:27)
Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud adalah kematian para tokoh terkemuka, pemimpin, dan ulama di negeri tersebut, serta hilangnya orang-orang saleh dan orang-orang terbaik.”
Namun, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat pertama, sebagaimana dikemukakan oleh Al-Wahidi.
وَاللهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ
“Dan Allah menetapkan hukum; tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.”
Maksudnya, Allah menetapkan keputusan yang pasti dan tidak dapat ditolak. Tidak ada seorang pun yang mampu menolak keputusan-Nya yang telah berlaku, menggugatnya, membatalkannya, ataupun mengubahnya. Di antara ketetapan Allah Ta‘ala adalah bahwa bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang saleh, dengan menegakkan keadilan, melakukan perbaikan, dan memakmurkannya.
وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya.”
Maksudnya, Allah akan segera menghisab hamba-hamba-Nya di akhirat. Azab-Nya pasti datang dan tidak mungkin terelakkan. Karena itu, janganlah engkau meminta agar azab mereka disegerakan. Sesungguhnya Allah akan mengazab mereka di akhirat, setelah sebelumnya Dia mengazab mereka di dunia dengan pembunuhan, penawanan, kehinaan, kerendahan, dan berbagai bentuk hukuman.
وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
“Dan sungguh, orang-orang sebelum mereka telah melakukan tipu daya.”
Ayat ini merupakan penghiburan bagi Nabi ﷺ atas berbagai tipu daya kaumnya sekaligus menguatkan beliau agar bersabar menghadapi gangguan mereka. Sebab, pada akhirnya kemenangan pasti menjadi milik beliau.
Maksudnya, orang-orang kafir sebelum mereka juga telah melakukan tipu daya terhadap para rasul mereka. Mereka berusaha mengusir para rasul dari negeri mereka dan menyiksa mereka. Demikianlah yang dilakukan Namrud terhadap Ibrahim, Fir‘aun terhadap Musa, orang-orang Yahudi terhadap Isa, serta kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum Luth terhadap para rasul mereka.
Namun, Allah menggagalkan tipu daya mereka dan menjadikan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maksudnya, Allah merencanakan bagi mereka sesuatu yang menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kebinasaan akibat kezaliman dan kerusakan yang mereka lakukan.
فَلِلّهِ الْمَكْرُ جَمِيعاً
“Namun, segala tipu daya itu berada dalam kekuasaan Allah.”
Maksudnya, tidak ada satu pun rencana yang patut diperhitungkan selain ketetapan dan pengaturan Allah. Tipu daya orang-orang yang melakukan tipu daya tidak akan membahayakan kecuali dengan izin Allah. Tipu daya itu pun tidak akan memberikan pengaruh kecuali sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya. Karena itu, tidak ada yang patut ditakuti selain Allah.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta‘ala mengenai tipu daya orang-orang musyrik terhadap Nabi ﷺ menjelang hijrah:
وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ
(Ingatlah) ketika orang-orang yang kufur merencanakan tipu daya terhadapmu (Nabi Muhammad) untuk menahan, membunuh, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Al-Anfāl [8]:30)
Dan firman-Nya:
وَمَكَرُوْا مَكْرًا وَّمَكَرْنَا مَكْرًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ * فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ اَنَّا دَمَّرْنٰهُمْ وَقَوْمَهُمْ اَجْمَعِيْنَ * فَتِلْكَ بُيُوْتُهُمْ خَاوِيَةً ۢبِمَا ظَلَمُوْاۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
Mereka membuat tipu daya dan Kami pun menyusun tipu daya, sedangkan mereka tidak sadar. Perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka bahwa sesungguhnya Kami membinasakan mereka dan semua kaumnya. Itulah rumah-rumah mereka yang kosong (sebagai bukti bahwa mereka binasa) akibat kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengetahui.
(An-Naml [27]:50-52)
يَعْلَمُ ما تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ
“Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap jiwa.”
Maksudnya, Allah Ta‘ala mengetahui seluruh rahasia dan apa yang tersembunyi di dalam hati. Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amal yang dikerjakannya. Dia menolong para wali-Nya dan menghukum orang-orang yang melakukan tipu daya.
Ini merupakan ancaman keras dan peringatan tegas bagi setiap orang kafir yang melakukan tipu daya. Sekaligus menjadi penghiburan bagi Nabi ﷺ dan jaminan perlindungan bagi beliau dari tipu daya mereka.
وَسَيَعْلَمُ الْكُفّارُ
“Dan orang-orang kafir kelak akan mengetahui.”
Maksudnya, pada hari Kiamat orang-orang kafir akan mengetahui pihak manakah yang memperoleh kesudahan yang baik di antara dua golongan, yaitu orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Kesudahan yang baik akan menjadi milik para pengikut rasul, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, mereka memperoleh kemenangan, sedangkan di akhirat mereka memperoleh surga.
Kemudian Allah membantah orang-orang yang mengingkari kenabian Nabi ﷺ. Allah Ta‘ala berfirman:
وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا
“Dan orang-orang kafir berkata.”
Maksudnya, orang-orang kafir yang mengingkari kenabianmu berkata, “Engkau bukanlah seorang rasul yang diutus oleh Allah.” Padahal engkau menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya; menyelamatkan mereka dari kegelapan menuju cahaya; mengalihkan mereka dari penyembahan berhala dan patung kepada penyembahan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal; serta mengeluarkan mereka dari kezaliman dan kerusakan menuju keadilan dan perbaikan.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Seorang uskup dari Yaman datang menghadap Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bertanya kepadanya, ‘Apakah kalian menemukan berita tentang seorang rasul dalam Injil?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Maka Allah Ta‘ala menurunkan ayat:
وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا:
لَسْتَ مُرْسَلاً
‘Dan orang-orang kafir berkata, “Engkau bukanlah seorang rasul yang diutus.”’ hingga akhir ayat.”
قُلْ: كَفَى بِاللهِ
“Katakanlah, ‘Cukuplah Allah.’”
Katakanlah, wahai Muhammad, kepada mereka, “Cukuplah bagiku dan menjadi jaminan bagiku bahwa Allah menjadi saksi atas kebenaran kerasulanku dan mendukung dakwahku melalui Al-Qur’an yang merupakan mukjizat yang Dia turunkan kepadaku, serta melalui berbagai bukti nyata yang menunjukkan kebenaranku.”
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.
(Al-Fatḥ [48]:28)
Cukuplah pula bagiku, setelah kesaksian Allah, kesaksian para ulama Ahli Kitab yang beriman dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Mereka membenarkan kerasulanku berdasarkan apa yang mereka temukan dalam Taurat dan Injil berupa kabar gembira tentang kerasulanku, serta tanda-tanda yang tidak sesuai dengan siapa pun selain diriku.
Di antara mereka adalah Abdullah bin Salam—seorang yang berasal dari kalangan Yahudi—beserta para sahabatnya.
Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan dari Qatadah, ia berkata:
“Di antara Ahli Kitab terdapat orang-orang yang memberikan kesaksian dengan benar dan mengetahuinya. Di antara mereka adalah Abdullah bin Salam, Al-Jarud, Tamim Ad-Dari, dan Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhum.”
Hal tersebut juga ditegaskan oleh ayat lainnya:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahui(-nya). (Al-Baqarah [2]:146)
Fikih Kehidupan atau Hukum-Hukum
Ayat-ayat tersebut memberikan beberapa petunjuk berikut:
- Tugas seorang rasul terbatas pada menyampaikan risalah kepada umat. Ia tidak dibebani kewajiban untuk memberikan hidayah dan memperbaiki mereka.
- Allah Ta‘ala-lah yang mewujudkan berbagai peristiwa dan kejadian. Dia menepati janji dan ancaman-Nya serta menurunkan azab yang keras kapan pun Dia kehendaki. Hal itu dapat terjadi ketika Nabi ﷺ masih hidup ataupun setelah beliau wafat.
- Allah Ta‘ala-lah yang menjamin dan menangani perhitungan amal para hamba atas segala kebaikan maupun keburukan yang telah mereka kerjakan.
- Sesungguhnya meluasnya wilayah Islam dan bertambah luasnya penaklukan-penaklukan Islam, serta menyusutnya kekufuran dan menyempitnya wilayah orang-orang kafir, semuanya berada di tangan Allah Ta‘ala semata.
- Sesungguhnya bumi tidak berbentuk bulat sempurna, melainkan berbentuk bulat lonjong (elipsoid), dengan bagian-bagian ujungnya yang sedikit pepat.
- Tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah Ta‘ala dan tidak ada yang dapat menggugat keputusan-Nya. Tidak seorang pun mampu mengubah keputusan-Nya dengan mengurangi, membatalkan, menggugurkan, ataupun mengubahnya.
- Allah Ta‘ala Mahacepat dalam menghisab para hamba, yakni dalam memberikan balasan dan pembalasan kepada orang-orang kafir, serta Mahacepat dalam memberikan pahala kepada orang-orang beriman.
- Semua rencana dan tipu daya musuh-musuh yang kafir akan gagal di hadapan pengaturan Allah Ta‘ala. Tipu daya mereka tidak akan membahayakan kecuali dengan izin-Nya. Dalam hal ini terdapat penghiburan bagi Nabi ﷺ, penguatan keteguhan beliau, serta penegasan bahwa pada akhirnya kemenangan akan menjadi milik beliau, sedangkan kekalahan akan berbalik menimpa orang-orang kafir.
- Allah mengetahui segala kebaikan dan keburukan yang dikerjakan oleh setiap jiwa, lalu Dia akan memberikan balasan atasnya.
- Orang-orang kafir kelak akan mengetahui siapakah yang memperoleh kesudahan yang baik, yaitu siapa yang mendapatkan balasan berupa pahala dan hukuman di dunia, atau siapa yang memperoleh pahala dan hukuman di akhirat. Ini merupakan ancaman dan peringatan keras bagi mereka.
- Pengingkaran orang-orang musyrik Arab dan orang-orang Yahudi terhadap kerasulan Nabi ﷺ, serta ucapan mereka kepada beliau, “Engkau bukanlah seorang nabi dan bukan pula seorang rasul. Engkau hanyalah mengada-adakan perkataan,” karena beliau tidak mendatangkan ayat-ayat yang mereka usulkan, sama sekali tidak mengurangi sedikit pun kebenaran tersebut dan tidak mengubah kenyataan.
Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran beliau. Demikian pula, kesaksian orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab sudah cukup sebagai bukti, seperti Abdullah bin Salam, Salman Al-Farisi, Tamim Ad-Dari, An-Najasyi, dan para sahabatnya.
Namun, Ibnu Jubair berkata, “Surah ini adalah surah Makkiyyah, sedangkan Ibnu Salam masuk Islam di Madinah setelah turunnya surah ini. Karena itu, ayat tersebut tidak mungkin dimaksudkan untuk Ibnu Salam. Yang dimaksud dengan ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang Al-Kitab’ adalah Jibril.” Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas.
Adapun Al-Hasan, Mujahid, dan Adh-Dhahhak berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Allah Ta‘ala.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh orang beriman, maka pendapat ini benar. Sebab, setiap orang beriman mengetahui Al-Kitab, memahami sisi kemukjizatannya, dan bersaksi atas kebenaran Nabi ﷺ. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan Al-Kitab adalah Al-Qur’an Al-Karim.
Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang Taurat dan Injil. Artinya, setiap orang yang menguasai kedua kitab tersebut mengetahui bahwa keduanya memuat kabar gembira tentang kedatangan Muhammad ﷺ. Jika orang yang berilmu tersebut bersikap objektif dan tidak mendustakannya, maka ia menjadi saksi bahwa Muhammad ﷺ benar-benar seorang rasul yang diutus oleh Allah Ta‘ala.