Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa asy-Syarī‘ah wa al-Manhaj karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, tafsir QS. Ar-Ra‘d ayat 16.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۗقُلْ اَفَاتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّاۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ەۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّوْرُ ەۚ اَمْ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْۗ قُلِ اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu menjadikan selain Dia sebagai pelindung, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang dapat melihat? Atau, samakah kegelapan dengan cahaya? Atau, apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang (diyakini) dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah pencipta segala sesuatu dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ar-Ra‘d [13]:16)
Keterkaitan Ayat (munāsabah)
Setelah Allah Ta’ala menjelaskan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bersujud kepada-Nya, tunduk kepada kekuasaan dan keagungan-Nya, Dia kembali membantah para penyembah berhala untuk menetapkan keesaan-Nya, baik keesaan dalam ulūhiyyah (hak untuk disembah) maupun keesaan dalam rubūbiyyah (ketuhanan dan pengaturan alam semesta), sehingga mereka tidak memiliki jalan lain selain mengakui hal tersebut.
Tafsir dan Penjelasan
Katakanlah kepada orang-orang musyrik, wahai Rasul, “Siapakah Pencipta langit dan bumi?” Kemudian jawablah pertanyaan itu atas nama mereka dengan jawaban yang sudah pasti dan tidak mungkin mereka hindari, yaitu jawaban yang memang mereka akui. Sebab, mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ
Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” (Luqmān [31]:25)
Karena itu, katakanlah kepada mereka, “Allah-lah Pencipta keduanya, Rabb keduanya, dan Pengatur segala urusan keduanya.”
Az-Zamakhsyari berkata:
Firman Allah, “Katakanlah: Allah”, adalah penyebutan atas pengakuan mereka sendiri sekaligus penegasan hujah yang membantah mereka. Sebab, ketika mereka ditanya, “Siapakah Rabb langit dan bumi?”, mereka tidak dapat mengelak untuk menjawab, “Allah.”
Kemudian katakanlah kepada mereka, setelah hal itu terbukti dan diakui oleh kalian: Mengapa kalian menjadikan selain Allah sebagai sesembahan? Padahal benda-benda itu hanyalah benda mati. Jika kalian mengakui keberadaan Allah, mengapa kalian justru menjadikan selain-Nya sebagai penolong dan pelindung yang lemah, lalu menyembah mereka, padahal mereka tidak mampu mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diri mereka sendiri?
Jika sesembahan-sesembahan itu tidak mampu memberikan manfaat atau menolak mudarat bagi diri mereka sendiri, maka tentu lebih tidak mampu lagi memberikan manfaat atau menolak mudarat bagi para penyembahnya.
Apakah sama orang yang menyembah sesembahan-sesembahan itu bersama Allah dengan orang yang menyembah Allah semata tanpa sekutu, yang berada di atas cahaya dan petunjuk dari Rabbnya?
Karena itulah Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ
Katakanlah, “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang dapat melihat?
Maksudnya, katakanlah kepada mereka seraya menjelaskan buruknya keyakinan mereka:
Apakah sama orang yang buta, yang tidak dapat melihat apa pun, dengan orang yang dapat melihat, yang mengenali kebenaran dan membimbing orang buta kepadanya?
Atau,
Apakah sama kegelapan-kegelapan dengan cahaya?
Allah menggunakan bentuk jamak pada kata “kegelapan-kegelapan” (الظلمات) dan bentuk tunggal pada kata “cahaya” (النور), karena jalan kebenaran itu hanya satu, sedangkan jalan-jalan kebatilan dan kekafiran itu banyak dan beragam.
Yang dimaksud adalah: apakah mungkin seseorang memutuskan bahwa orang kafir dan orang beriman itu sama, atau bahwa kekafiran dan keimanan itu setara? Padahal orang kafir bagaikan orang buta, kekafiran bagaikan kegelapan-kegelapan, sedangkan orang beriman bagaikan orang yang dapat melihat, dan keimanan bagaikan cahaya.
“Ataukah mereka menjadikan…” Maksudnya, bahkan mereka, yaitu orang-orang musyrik itu, menjadikan bersama Allah sesembahan-sesembahan yang mereka anggap sebanding dan setara dengan Tuhan dalam hal penciptaan. Karena mereka menganggap sekutu-sekutu itu memiliki kemampuan mencipta seperti ciptaan Allah, maka urusan itu menjadi samar bagi mereka, sehingga mereka pun menyembahnya.
Padahal sesembahan-sesembahan itu tidak mampu menciptakan apa pun, sementara merekalah yang diciptakan. Lalu bagaimana mungkin mereka dijadikan sekutu dalam ibadah? Apakah Dzat yang menciptakan sama dengan yang tidak mampu menciptakan?
Makna ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala:
اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. (Al-Ḥajj [22]:73)
Yang dimaksud adalah: bukanlah kenyataannya seperti itu. Sebab Allah Ta’ala tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak ada pembantu (menteri) bagi-Nya, tidak pula anak dan pasangan bagi-Nya.
Akan tetapi, orang-orang musyrik itu menyembah berbagai sesembahan, sementara mereka sendiri mengakui bahwa sesembahan-sesembahan tersebut adalah makhluk ciptaan Allah dan merupakan hamba-hamba-Nya. Hal itu mereka nyatakan secara terang dalam talbiyah mereka:
“Labbaika lā syarīka laka illā syarīkan huwa laka, tamlikuhu wa mā malak.”
“Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu; Engkau menguasainya dan menguasai apa yang dimilikinya.”
Demikian pula Al-Qur’an mengabarkan tentang mereka:
مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى
“Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar [39]:3)
Pertanyaan (dalam ayat) ini juga mengandung keheranan terhadap mereka, pengingkaran atas perbuatan mereka, serta sindiran dan ejekan terhadap mereka.
Setelah Allah Ta’ala mendebat mereka tentang rusaknya keyakinan mereka dan menjelaskan tidak adanya alasan yang membenarkan menjadikan selain Allah sebagai sesembahan bersama-Nya, karena kelemahan dan ketidakmampuannya, Allah kemudian menetapkan keputusan yang final dengan firman-Nya:
قُلِ: اللهُ خالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
‘Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu.’
Artinya, katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, sambil menjelaskan kebenaran yang sebenarnya: Allah-lah Pencipta segala sesuatu; Dia yang menciptakan kalian, menciptakan berhala-berhala kalian, dan menciptakan seluruh makhluk. Jika kalian berpikir dengan benar dan lurus, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Allah semata yang memiliki keistimewaan dalam menciptakan dan mengadakan segala sesuatu dari ketiadaan. Karena itu, Dia pula satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi. Dialah Yang Mahaperkasa dan menguasai segala sesuatu.
Maka bagaimana mungkin kalian menyembah berhala-berhala yang tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula dapat menimpakan mudarat?
Fiqh Kehidupan atau Hukum-Hukum yang Dapat Diambil:
Ayat ini menunjukkan beberapa pelajaran berikut:
- Meneguhkan hakikat yang abadi dan kekal, yaitu bahwa hanya Allah Ta’ala semata Pencipta langit dan bumi serta seluruh makhluk yang ada di alam semesta.
Dan Dzat yang memiliki sifat mencipta dan mengadakan segala sesuatu dari ketiadaan itulah yang berhak untuk disembah dan diagungkan.
- Firman Allah Ta’ala:
قُلْ اَفَاتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ
“Katakanlah, “Pantaskah kamu menjadikan selain Dia sebagai pelindung?”
menunjukkan bahwa mereka sebenarnya mengakui Allah sebagai Pencipta. Makna ini ditegaskan pula dalam ayat lain:
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ
Jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan,” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” (Al-‘Ankabūt [29]:61)
Artinya, jika kalian telah mengakui bahwa Allah adalah Sang Pencipta, lalu mengapa kalian menyembah selain-Nya? Padahal sesembahan-sesembahan itu tidak mampu memberikan manfaat maupun menolak mudarat.
Ini merupakan hujjah yang sangat kuat dan argumentasi yang tidak terbantahkan, sehingga tidak ada ruang untuk menolaknya ataupun meragukannya.
- Allah membuat perumpamaan bagi kaum musyrikin dengan orang buta, yaitu sebagai gambaran bagi orang kafir, dan orang yang dapat melihat sebagai gambaran bagi orang beriman.
Sebagaimana telah menjadi perkara yang diakui oleh seluruh manusia bahwa orang buta dan orang yang dapat melihat tidaklah sama, demikian pula tidak sama antara orang beriman yang dapat melihat dan mengenali kebenaran dengan orang musyrik yang tidak dapat melihat dan tidak mengenali kebenaran itu.
Kemudian Allah Ta’ala membuat perumpamaan bagi kesyirikan dan keimanan dengan kegelapan dan cahaya.
- Allah telah membutakan akal kaum musyrikin sehingga mereka tidak mau menerima bukti-bukti yang telah disebutkan sebelumnya. Bahkan mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu yang kehilangan unsur terpenting ketuhanan, yaitu kemampuan mencipta dan mengadakan.
Sesembahan-sesembahan itu sama sekali tidak mampu menciptakan apa pun. Karena itu, mustahil mereka dapat menandingi ciptaan-ciptaan Allah.
Seandainya alam semesta ini memiliki dua pencipta, niscaya akan terjadi kerancuan dalam penciptaan; tidak akan dapat dibedakan mana perbuatan yang berasal dari yang satu dan mana yang berasal dari yang lain. Lalu dengan cara apa dapat diketahui bahwa suatu perbuatan berasal dari dua pencipta sekaligus?!
Dan ketika kaum musyrikin menjadikan tuhan-tuhan selain Allah, seakan-akan mereka menganggap bahwa tuhan-tuhan itu telah menciptakan makhluk-makhluk sebagaimana Allah menciptakan makhluk-Nya, sehingga perkara penciptaan menjadi samar bagi mereka; mereka tidak dapat membedakan mana ciptaan Allah dan mana ciptaan tuhan-tuhan mereka.
Ungkapan ini merupakan bentuk sindiran dan celaan terhadap mereka. Sebab kenyataannya, mereka sendiri melihat bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah, sedangkan tuhan-tuhan yang mereka sembah itu tidak menciptakan apa pun. Namun demikian, mereka tetap menyembahnya selain Allah.
- Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Maka konsekuensinya, segala sesuatu wajib beribadah kepada-Nya.
Ayat ini merupakan bantahan terhadap kaum musyrikin dan kaum Qadariyah yang mengklaim bahwa mereka menciptakan sebagaimana Allah menciptakan.
Allah Ta’ala adalah Yang Maha Esa sebelum segala sesuatu, dan Yang Maha Mengalahkan lagi Maha Berkuasa atas segala sesuatu, yang mengalahkan setiap orang yang memiliki kehendak dalam apa yang Dia kehendaki.
Maka bagaimana mungkin, setelah penjelasan ini, dikatakan bahwa Allah memiliki sekutu?!
- Ahlus Sunnah berdalil dengan ayat ini bahwa perbuatan-perbuatan manusia adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Artinya, perbuatan hamba diciptakan oleh Allah Ta’ala, dan hamba tidak menciptakan perbuatannya sendiri.
Sebab perbuatan seorang hamba adalah sesuatu, sedangkan Allah adalah Pencipta segala sesuatu.
Adapun yang terjadi dari hamba hanyalah usaha (kasb), pengarahan, dan memilih apa yang Allah ciptakan baginya.
Adapun kaum Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa hamba berbuat dan mengadakan perbuatannya sendiri. Namun kami tidak mengatakan bahwa ia menciptakan sebagaimana Allah Ta’ala menciptakan. Hamba hanya berbuat untuk memperoleh manfaat dan menolak mudarat. Sedangkan Allah Ta’ala Mahasuci dari semua itu. Oleh karena itu, menurut mereka, tidaklah mesti dikatakan bahwa mereka telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang menciptakan sebagaimana ciptaan-Nya.
Dan kaum Jabariyah berkata: perbuatan yang merupakan ciptaan Allah Ta’ala itu sendiri adalah usaha (kasb) dan perbuatan hamba.
Ini adalah hakikat kesyirikan, karena dengan anggapan tersebut, Tuhan dan hamba dalam penciptaan perbuatan-perbuatan itu berada pada kedudukan dua pihak yang berserikat. Padahal setiap pihak yang berserikat memiliki hak dalam perbuatan pihak yang lain.