Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa asy-Syarī‘ah wa al-Manhaj karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, tafsir QS. Ar-Ra‘d ayat 35-39.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَۗ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۗ اُكُلُهَا دَاۤىِٕمٌ وَّظِلُّهَاۗ تِلْكَ عُقْبَى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا ۖوَّعُقْبَى الْكٰفِرِيْنَ النَّارُ * وَالَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمِنَ الْاَحْزَابِ مَنْ يُّنْكِرُ بَعْضَهٗ ۗ قُلْ اِنَّمَآ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ وَلَآ اُشْرِكَ بِهٖ ۗاِلَيْهِ اَدْعُوْا وَاِلَيْهِ مَاٰبِ * وَكَذٰلِكَ اَنْزَلْنٰهُ حُكْمًا عَرَبِيًّاۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَمَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا وَاقٍ * وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّذُرِّيَّةً ۗوَمَا كَانَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰيَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗلِكُلِّ اَجَلٍ كِتَابٌ * يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ وَيُثْبِتُ ۚوَعِنْدَهٗٓ اُمُّ الْكِتٰبِ
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (ialah seperti taman), mengalir di bawahnya sungai-sungai; senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepada mereka bergembira dengan apa (kitab) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara golongan-golongan itu (Yahudi dan Nasrani) ada yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” Demikianlah Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) sebagai penentu hukum yang berbahasa Arab. Sungguh, jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, niscaya engkau sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) pemelihara dari (siksa) Allah. Sungguh Kami benar-benar telah mengutus para rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak mungkin bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada ketentuannya. Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Di sisi-Nyalah terdapat Ummul-Kitāb (Lauhulmahfuz). (Ar-Ra‘d [13]:35-39)
Sebab Turunnya Ayat
Sebab turunnya ayat (38):
Al-Kalbi berkata, “Orang-orang Yahudi mencela Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Kami melihat bahwa orang ini tidak memiliki kesibukan selain wanita dan menikah. Seandainya dia benar-benar seorang nabi sebagaimana yang dia klaim, niscaya urusan kenabian akan menyibukkannya dari wanita.’ Maka Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّذُرِّيَّةً
Sungguh Kami benar-benar telah mengutus para rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. (Ar-Ra‘d [13]:38)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, “Ketika turun firman Allah:
وَما كانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلاّ بِإِذْنِ اللهِ
‘Tidak ada seorang rasul pun yang dapat mendatangkan suatu mukjizat kecuali dengan izin Allah,’
orang-orang Quraisy berkata, ‘Wahai Muhammad, kami melihat engkau sama sekali tidak memiliki kuasa atas apa pun. Sungguh, segala urusan telah ditetapkan.’ Maka Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:
يَمْحُوا اللهُ ما يَشاءُ وَيُثْبِتُ
‘Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.’”
Keterkaitan Ayat
Setelah Allah Ta‘ala menyebutkan azab orang-orang kafir di dunia dan akhirat, Dia melanjutkannya dengan menyebutkan pahala bagi orang-orang yang bertakwa serta kenikmatan yang telah Dia persiapkan bagi orang-orang beriman berupa surga-surga yang penuh kenikmatan. Demikianlah gaya Al-Qur’an; apabila menggambarkan neraka dan azabnya, Al-Qur’an juga menyebutkan surga dan kenikmatannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Al-Furqan:
بَلْ كَذَّبُوْا بِالسَّاعَةِۙ وَاَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيْرًا * اِذَا رَاَتْهُمْ مِّنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍ سَمِعُوْا لَهَا تَغَيُّظًا وَّزَفِيْرًا * وَاِذَآ اُلْقُوْا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُّقَرَّنِيْنَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُوْرًا ۗ * لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُوْرًا وَّاحِدًا وَّادْعُوْا ثُبُوْرًا كَثِيْرًا * قُلْ اَذٰلِكَ خَيْرٌ اَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَۗ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاۤءً وَّمَصِيْرًا * لَهُمْ فِيْهَا مَا يَشَاۤءُوْنَ خٰلِدِيْنَۗ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ وَعْدًا مَّسْـُٔوْلًا
Sebenarnya mereka mendustakan hari Kiamat. Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari Kiamat. Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar darinya suara gemuruh karena marah dan geram. Apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka dalam keadaan dibelenggu, mereka di sana berteriak mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka,) “Janganlah kamu pada hari ini mengharapkan satu kebinasaan saja, tetapi harapkanlah kebinasaan yang banyak.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah (azab) seperti itu yang baik atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan dan tempat kembali bagi mereka?” Bagi mereka segala yang mereka kehendaki ada di dalamnya (surga). Mereka kekal (di dalamnya). Itulah janji Tuhanmu yang pantas dimohonkan (kepada-Nya). (Al-Furqān [25]:11-16)
Kemudian Allah Ta‘ala menyebutkan kegembiraan orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab karena Al-Qur’an selaras dengan kitab yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, serta menyebutkan adanya kelompok lain yang mengingkari hal tersebut.
Kemudian Allah Ta‘ala menyebutkan syubhat-syubhat kaum musyrik untuk menggugurkan kenabian Nabi ﷺ, seperti mencela beliau karena memiliki beberapa istri dan menganggap beliau tidak mampu mendatangkan mukjizat.
Allah membantah mereka bahwa Muhammad ﷺ, sebagaimana para nabi lainnya, juga memiliki istri dan anak; bahwa perkara mukjizat sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah Ta‘ala, bukan siapa pun selain-Nya; dan bahwa turunnya azab telah ditetapkan pada waktu tertentu. Setiap ketetapan memiliki waktunya, yakni setiap peristiwa memiliki waktu yang telah ditentukan.
Tafsir dan Penjelasan
Di antara apa yang Kami kisahkan kepadamu, atau yang dibacakan kepadamu, terdapat gambaran dan sifat surga yang begitu menakjubkan sehingga layak dijadikan perumpamaan. Itulah surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa. Di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir di berbagai penjuru dan sisinya. Para penghuninya dapat mengalirkan sungai-sungai itu ke mana saja yang mereka kehendaki dan mengarahkannya sesuai keinginan mereka.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (adalah bahwa) di dalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, sungai-sungai air susu yang rasanya tidak berubah, sungai-sungai khamar yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah dan ampunan dari Tuhan mereka. (Apakah orang yang memperoleh kenikmatan surga) sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong? (Muḥammad [47]:15)
أُكُلُها دائِمٌ وَظِلُّها
“Buah-buahannya selalu ada dan demikian pula naungannya,” yakni segala yang dimakan di surga, berupa buah-buahan, berbagai jenis makanan, dan minuman, tidak akan pernah terputus dan tidak akan pernah habis. Demikian pula naungannya, tetap ada selamanya, tidak akan lenyap dan tidak akan berakhir. Di sana tidak ada matahari, tidak ada hawa yang menyengat, dan tidak pula udara yang sangat dingin. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
لَا يَرَوْنَ فِيْهَا شَمْسًا وَّلَا زَمْهَرِيْرًاۚ
Di sana mereka tidak merasakan terik matahari dan dingin yang menusuk. (Al-Insān [76]:13)
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang salat gerhana, disebutkan bahwa para sahabat berkata,
“Wahai Rasulullah, kami melihat engkau meraih sesuatu ketika berdiri di tempatmu ini, kemudian kami melihat engkau mundur.”
Beliau bersabda,
إنّي رأيت الجنّة، فتناولت منها عنقودا، ولو أخذته لأكلتم منه ما بقيت الدّنيا
“Sesungguhnya aku diperlihatkan surga. Aku pun hendak mengambil setandan buah anggur darinya. Seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian akan dapat memakannya selama dunia masih ada.”
Setelah menggambarkan surga dengan tiga sifat tersebut, Allah Ta‘ala berfirman:
تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ
“Itulah kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan kesudahan orang-orang kafir adalah neraka.”
Maksudnya, surga itulah tempat kembali dan tujuan akhir orang-orang yang bertakwa. Adapun tempat kembali orang-orang kafir adalah neraka, disebabkan kekafiran dan dosa-dosa mereka. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga. Penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.(Al-Ḥasyr [59]:20)
Yang dimaksud ialah bahwa pahala yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa merupakan kenikmatan yang murni, bersih dari segala kekurangan dan hal-hal yang mengotorinya, serta memiliki sifat kekal dan tidak pernah berakhir.
Ayat ini merupakan dorongan dan kabar gembira bagi orang-orang mukmin yang bertakwa, sekaligus membuat orang-orang kafir berputus asa dari memperoleh pahala tersebut.
Kemudian Allah Ta‘ala menjelaskan bahwa sikap Ahli Kitab terhadap Al-Qur’an terbagi menjadi dua golongan. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ
“Dan orang-orang yang telah Kami beri Kitab,” yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani, terbagi menjadi dua kelompok.
Kelompok yang mengamalkan isi kitab mereka bergembira dengan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu, karena di dalam kitab-kitab mereka terdapat bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran Al-Qur’an dan kabar gembira tentang diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ
Orang-orang yang telah Kami beri kitab suci, mereka membacanya sebagaimana mestinya, itulah orang-orang yang beriman padanya. (Al-Baqarah [2]:121)
Yang termasuk golongan ini ialah sekelompok orang Yahudi, seperti Abdullah bin Salam dan para sahabatnya, serta sekelompok orang Nasrani yang berjumlah delapan puluh orang dari Habasyah, Yaman, dan Najran.
وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ
“Dan di antara golongan-golongan itu ada yang mengingkari sebagiannya.”
Yang dimaksud dengan al-ahzāb ialah kelompok-kelompok dari kalangan Ahli Kitab yang bersekutu untuk memusuhi Rasulullah ﷺ, seperti Ka‘b bin Al-Asyraf dari kalangan Yahudi, serta As-Sayyid dan Al-‘Aqib, dua uskup dari Najran, beserta para pengikut mereka.
Di antara mereka ada yang mengingkari sebagian kebenaran yang dibawa kepadamu, yaitu ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan syariat mereka atau yang bertentangan dengan apa yang telah mereka ubah dan selewengkan dari kitab-kitab mereka.
Di tengah perbedaan sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap Al-Qur’an ini, Allah Ta‘ala menjelaskan jalan keselamatan dan kebahagiaan. Dia berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ ۚ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Hanya kepada-Nya aku menyeru dan hanya kepada-Nya aku kembali.’”
Maksudnya, katakanlah, wahai Muhammad, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyembah Allah semata, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, sebagaimana para nabi sebelumku juga diutus dengan misi yang sama. Kepada jalan Allah, ketaatan kepada-Nya, dan ibadah kepada-Nya aku mengajak seluruh manusia. Hanya kepada-Nya tempat kembaliku, dan kepada-Nya pula tempat kembali kalian semua, untuk menerima balasan dan menjalani hisab.”
Sama seperti firman Allah Ta‘ala:
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (Āli ‘Imrān [3]:64)
Ayat ini menunjukkan prinsip tauhid dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan. Ayat ini juga menunjukkan adanya hari kebangkitan, hisab, dan pembalasan pada hari Kiamat.
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا
“Demikianlah Kami menurunkannya sebagai hukum dalam bahasa Arab.”
Maksudnya, sebagaimana Kami telah mengutus para rasul sebelummu dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, demikian pula Kami menurunkan kepadamu Al-Qur’an yang kokoh dan sempurna, tidak mengandung penyimpangan sedikit pun, serta berbahasa Arab, yaitu dengan bahasa kaummu, agar mereka lebih mudah memahaminya dan menghafalnya.
Ayat ini juga menjadi dalil bahwa setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. (Ibrāhīm [14]:4)
Yang dimaksud dengan {حُكْمًا} ialah bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai pemutus antara yang hak dan yang batil, menetapkan hukum dalam berbagai perkara, menjelaskan yang halal dan yang haram, serta menerangkan syariat dan berbagai aturan yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kemudian Allah Ta‘ala berfirman sebagai bentuk pengandaian:
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ
“Dan sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka…”
Maksudnya, seandainya engkau mengikuti pendapat dan keinginan mereka serta berkompromi dengan mereka, seperti kembali menghadap Baitul Maqdis setelah kiblat dipindahkan ke Masjidil Haram, niscaya tidak ada seorang pun yang dapat menolongmu dari azab Allah. Tidak ada pula pelindung ataupun penghalang yang dapat mencegah hukuman-Nya dan menyelamatkanmu dari siksa.
Ungkapan ini merupakan sindiran kepada mereka dengan gaya bahasa yang dikenal dalam pepatah Arab: “إِيَّاكِ أَعْنِي وَاسْمَعِي يَا جَارَةُ” (Aku berbicara kepadamu, tetapi yang kumaksud adalah tetanggamu). Maksudnya, khitab ditujukan kepada seseorang, tetapi sasaran sebenarnya adalah orang lain.
Ayat ini juga merupakan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang berilmu agar tidak mengikuti jalan orang-orang yang sesat setelah mereka mengetahui agama yang benar. Selain itu, ayat ini memutus seluruh harapan orang-orang kafir agar Nabi ﷺ mengikuti keinginan mereka, sekaligus membangkitkan semangat kaum mukminin agar tetap teguh di atas agama mereka.
Meskipun khitab dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang dimaksud adalah umat beliau.
Kemudian Allah Ta‘ala membantah celaan kaum musyrik terhadap Nabi ﷺ karena beliau memiliki beberapa istri. Allah berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.”
Maksudnya, sebagaimana Kami telah mengutusmu, wahai Muhammad, sebagai seorang rasul dari kalangan manusia, demikian pula Kami telah mengutus para rasul sebelummu sebagai manusia. Mereka makan makanan, berjalan di pasar-pasar, menikah, serta memiliki istri dan keturunan.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku”. (Al-Kahf [18]:110)
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
أما أنا فأصوم وأفطر، وأقوم وأنام، وآكل اللحم، وأتزوّج النّساء، فمن رغب عن سنّتي فليس منّي
“Adapun aku, maka aku berpuasa dan berbuka, aku melaksanakan salat malam dan juga tidur, aku memakan daging, serta menikahi wanita. Maka barang siapa membenci sunnahku, ia bukan termasuk golonganku.”
Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
أربع من سنن المرسلين: التّعطّر، والنّكاح، والسّواك، والحناء
“Empat perkara termasuk sunnah para rasul: memakai wewangian, menikah, bersiwak, dan memakai inai (pacar).”
Adapun Nabi ﷺ menikahi beberapa istri setelah melewati usia lima puluh empat tahun—usia yang pada umumnya keinginan terhadap wanita mulai berkurang—maka hal itu dilakukan demi kepentingan dakwah Islam. Di antaranya untuk mendukung penyebaran dakwah, mewujudkan kemaslahatan berupa terjalinnya hubungan baik dengan berbagai kabilah Arab, memberikan teladan dalam akhlak, keadilan terhadap para istri, serta menunjukkan kasih sayang kepada sebagian wanita yang kehilangan suami mereka karena gugur dalam jihad atau sebab lainnya.
Kemudian Allah Ta‘ala membantah celaan mereka bahwa Nabi ﷺ tidak mampu memenuhi tuntutan mereka untuk mendatangkan berbagai mukjizat. Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Tidaklah pantas bagi seorang rasul mendatangkan suatu mukjizat kecuali dengan izin Allah.”
Maksudnya, tidak benar dan tidak berada dalam kemampuan seorang rasul untuk mendatangkan mukjizat atau kejadian luar biasa kepada kaumnya kecuali apabila Allah mengizinkannya. Perkara itu bukan berada di tangan rasul, melainkan sepenuhnya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.
Sungguh, Al-Qur’an telah datang kepada kalian sebagai mukjizat yang kekal sepanjang zaman. Di dalamnya terdapat tantangan yang tidak mampu ditandingi dan hujah yang membungkam, yang membuktikan bahwa Al-Qur’an benar-benar berasal dari sisi Allah Ta‘ala.
لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
“Bagi setiap ketetapan ada waktunya.”
Maksudnya, setiap peristiwa memiliki waktu dan masa yang telah ditentukan. Demikian pula mukjizat-mukjizat datang pada waktunya sesuai dengan hikmah Allah dan pada saat yang hanya diketahui oleh-Nya. Segala sesuatu di sisi-Nya telah ditetapkan dengan ukuran yang sempurna. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran. (Al-Qamar [54]:49)
Firman Allah Ta‘ala:
لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
bermakna bahwa setiap masa memiliki ketetapan yang telah tertulis, sebagaimana firman-Nya:
لِكُلِّ نَبَاٍ مُّسْتَقَرٌّ وَّسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
Setiap berita (yang dibawa oleh rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui. (Al-An‘ām [6]:67)
Az-Zamakhsyari berkata, “Setiap waktu memiliki ketetapan yang Allah tuliskan atas hamba-hamba-Nya, yakni Dia menetapkan bagi mereka hukum-hukum yang sesuai dengan kemaslahatan mereka. Syariat-syariat dibangun di atas kemaslahatan yang dapat berbeda sesuai dengan keadaan dan zaman.”
Oleh karena itu, syariat para nabi terdahulu, seperti Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihimas salam, demikian pula syariat Nabi Muhammad ﷺ, masing-masing datang sesuai dengan tuntutan zamannya. Begitu pula umur manusia, ajal mereka, rezeki mereka, dan berbagai peristiwa yang mereka alami, semuanya memiliki waktu yang telah ditentukan, tidak akan maju dan tidak pula mundur. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan. (Al-A‘rāf [7]:34)
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ
“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.”
Maksudnya, Allah menghapus syariat-syariat yang Dia kehendaki untuk dihapus (dinasakh), yaitu syariat yang menurut hikmah-Nya patut dihapus, lalu menetapkan sebagai gantinya syariat yang Dia kehendaki dan yang mengandung kemaslahatan menurut kebijaksanaan-Nya. Di antaranya ialah Al-Qur’an Al-Karim yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya ﷺ. Bisa pula maknanya bahwa Allah membiarkan suatu hukum tetap berlaku dan tidak dinasakh.
Atau, maknanya adalah Allah menghapus dari kitab catatan takdir apa yang Dia kehendaki untuk tidak terjadi pada para hamba, dan menetapkan apa yang Dia kehendaki untuk benar-benar terjadi pada mereka.
وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.”
Yang dimaksud dengan Ummul Kitab ialah pokok dan induk dari seluruh kitab, yaitu Lauh Mahfuz, karena segala sesuatu yang akan terjadi telah tertulis di dalamnya.
Atau, maknanya ialah di sisi Allah terdapat ketetapan yang tidak mengalami perubahan sedikit pun. Bisa juga dimaknai sebagai ilmu Allah. Segala sesuatu yang dicatat dalam lembaran-lembaran para malaikat tidaklah terjadi kecuali sesuai dengan apa yang telah ditetapkan di dalam Ummul Kitab. Oleh karena itu, ia disebut sebagai induk atau asal dari seluruh catatan tersebut.
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda,
يمحو الله ما يشاء ويثبت إلا السّعادة والشّقاوة والموت
‘Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, kecuali kebahagiaan (menjadi penghuni surga), kesengsaraan (menjadi penghuni neraka), dan kematian.’”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
يمحو الله ما يشاء ويثبت إلا أشياء: الخلق والخلق والأجل والرّزق والسّعادة والشّقاوة
“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, kecuali beberapa perkara, yaitu penciptaan, akhlak (tabiat), ajal, rezeki, kebahagiaan, dan kesengsaraan.”
Ibnu Katsir berkata, “Makna ayat ini ialah bahwa Allah menghapus sebagian takdir yang Dia kehendaki dan menetapkan sebagian lainnya sesuai dengan kehendak-Nya.”
Pendapat ini dapat dikuatkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إن الرّجل ليحرم الرّزق بالذّنب يصيبه، ولا يردّ القضاء إلا الدّعاء، ولا يزيد في العمر إلا البرّ
“Sungguh, seseorang dapat terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya. Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur selain amal kebajikan (berbakti).”
Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:
الدُّعَاءُ يَرُدُّ الْقَضَاءَ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَزِيدُ فِي الرِّزْقِ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Doa dapat menolak ketetapan (takdir). Sesungguhnya amal kebajikan dapat menambah rezeki, dan sungguh seorang hamba dapat terhalang dari rezeki disebabkan dosa yang dilakukannya.”
Telah disebutkan dalam hadis sahih bahwa menyambung tali silaturahmi dapat menambah umur.
Dalam hadis yang lain disebutkan:
إِنَّ الدُّعَاءَ وَالْقَضَاءَ لَيَعْتَلِجَانِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sesungguhnya doa dan takdir saling berhadapan antara langit dan bumi.”
Kesimpulan:
Sesungguhnya ayat ini bersifat umum, mencakup segala sesuatu. Penghapusan dan penetapan dapat terjadi padanya, sedangkan Ummul Kitab sebagai pokok ketetapan tidak mengalami perubahan.
Adapun pengecualian berupa kebahagiaan, kesengsaraan, penciptaan, akhlak, dan rezeki, maka perkara-perkara tersebut tidak mengalami perubahan. Hal-hal seperti ini tidak dapat diketahui berdasarkan pendapat dan hasil ijtihad semata, tetapi harus bersumber dari Nabi ﷺ. Jika riwayat mengenai hal tersebut terbukti sahih, maka wajib menerima dan berpegang pada pendapat tersebut.
Fikih Kehidupan atau Hukum-Hukum
Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil beberapa pelajaran dan hukum sebagai berikut:
- Surga telah diciptakan dan Allah telah mempersiapkannya bagi orang-orang yang bertakwa. Allah Ta‘ala berfirman:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (Āli ‘Imrān [3]:133)
- Buah-buahan surga tidak akan pernah terputus dan naungannya tidak akan pernah hilang. Hal ini menjadi bantahan terhadap kaum Jahmiyyah yang beranggapan bahwa kenikmatan surga akan berakhir dan lenyap.
- Neraka juga telah diciptakan dan Allah telah mempersiapkannya bagi orang-orang kafir yang mendustakan. Allah Ta‘ala berfirman:
فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ
Jika kamu tidak (mampu) membuat(-nya) dan (pasti) kamu tidak akan (mampu) membuat(-nya), takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:24)
- Sebagian orang Yahudi dan Nasrani, seperti Ibnu Salam, Salman Al-Farisi, dan orang-orang yang datang dari Habasyah, bergembira dengan Al-Qur’an karena Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab mereka.
Mereka juga bergembira dengan penyebutan Ar-Rahman, karena nama tersebut banyak disebutkan dalam kitab Taurat.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa pada awal turunnya Al-Qur’an, penyebutan nama Ar-Rahman masih sedikit. Ketika Abdullah bin Salam dan para sahabatnya masuk Islam, mereka merasa sedih karena nama Ar-Rahman hanya sedikit disebutkan dalam Al-Qur’an, padahal nama tersebut banyak disebutkan dalam Taurat. Mereka pun bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai hal itu.
Lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ، أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Nama apa pun yang kalian seru, milik-Nya nama-nama yang terbaik.’”
Kemudian orang-orang Quraisy berkata, “Mengapa Muhammad mengajak kepada satu Tuhan, tetapi sekarang ia menyeru kepada dua Tuhan: Allah dan Ar-Rahman?! Demi Allah, kami tidak mengenal Ar-Rahman kecuali Ar-Rahman dari Yamamah,” yang mereka maksud adalah Musailamah Al-Kadzdzab.
Maka turunlah firman Allah:
وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ هُمْ كَافِرُونَ
“Sedangkan mereka mengingkari penyebutan Ar-Rahman.”
Dan firman-Nya:
وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ
“Sedangkan mereka mengingkari Ar-Rahman.”
Maka orang-orang mukmin dari kalangan Ahli Kitab bergembira dengan disebutkannya nama Ar-Rahman. Kemudian Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:
وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu.”
- Yang dimaksud dengan {وَمِنَ الْأَحْزَابِ} adalah kaum musyrik Mekah, orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi yang tidak beriman, atau bisa juga yang dimaksud adalah orang-orang Arab yang bersekutu untuk memusuhi Nabi ﷺ.
Di antara mereka ada yang mengingkari sebagian kandungan Al-Qur’an. Sebab, di antara mereka ada yang mengakui sebagian nabi, dan ada pula yang mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi.
- Dakwah Nabi ﷺ kepada manusia berfokus pada ajakan untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, serta beriman kepada kebangkitan, hisab, dan pembalasan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
إِلَيْهِ أَدْعُوا وَإِلَيْهِ مَآبِ
“Hanya kepada-Nya aku menyeru dan hanya kepada-Nya aku kembali.”
Maksudnya, kepada ibadah kepada-Nya aku mengajak manusia, dan kepada-Nya pula aku kembali dalam seluruh urusanku.
- Sebagaimana Allah Ta‘ala menurunkan kitab-kitab kepada para rasul dengan bahasa mereka, demikian pula Dia menurunkan Al-Qur’an Al-Karim kepada Nabi ﷺ dalam bahasa Arab, yaitu dengan bahasa bangsa Arab.
Yang dimaksud dengan {حُكْمًا} adalah hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an.
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan {حُكْمًا عَرَبِيًّا} adalah seluruh Al-Qur’an, karena Al-Qur’an menjadi pemutus antara yang hak dan yang batil serta menetapkan hukum di antara keduanya.
- Barang siapa mengikuti hawa nafsu kaum musyrik dalam beribadah kepada selain Allah Ta‘ala atau dalam menghadap ke arah selain Ka‘bah, setelah tegaknya dalil ilmiah yang kuat dan pasti mengenai kebenaran risalah Al-Qur’an dan Nabi ﷺ, maka ia tidak memiliki penolong yang dapat membelanya dan tidak pula memiliki pelindung yang dapat mencegah azab Allah darinya.
- Para nabi seluruhnya adalah manusia. Mereka menjalani berbagai kenikmatan dunia yang Allah halalkan bagi mereka, serta memiliki istri dan anak. Kekhususan mereka hanyalah pada wahyu yang Allah berikan kepada mereka.
- Firman Allah Ta‘ala:
وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
“Dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.”
Ayat ini menunjukkan anjuran dan dorongan untuk menikah, serta melarang tabattul, yaitu meninggalkan pernikahan. Menikah merupakan sunnah para rasul, sebagaimana ditegaskan dalam ayat ini. Hal tersebut juga disebutkan dalam hadis.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, meskipun hadis tersebut dhaif:
تَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ
“Menikahlah, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Anas radhiyallahu ‘anhu, meskipun hadis tersebut dhaif:
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِيمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي
“Barang siapa menikah, sungguh ia telah menyempurnakan separuh imannya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menjaga separuh yang tersisa.”
Maksudnya, pernikahan membantu seseorang menjaga kehormatan dirinya dari zina. Menjaga kehormatan diri merupakan salah satu dari dua perkara yang Rasulullah ﷺ menjanjikan surga bagi orang yang mampu menjaganya.
Beliau ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Muwaththa’ dan kitab-kitab hadis lainnya:
مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ اثْنَتَيْنِ، وَلَجَ الْجَنَّةَ: مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ
“Barang siapa Allah menjaganya dari keburukan dua perkara, niscaya ia masuk surga: apa yang berada di antara kedua rahangnya (lisannya) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluannya).”
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam hadis:
وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Aku melaksanakan salat dan tidur, serta menikahi wanita. Barang siapa berpaling dari sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”
- Seorang rasul tidak dapat mendatangkan mukjizat yang bersifat luar biasa semata-mata berdasarkan kehendaknya sendiri. Mukjizat tersebut hanya dapat terjadi dengan izin dan kehendak Allah.
- Setiap ketetapan memiliki catatan yang telah ditetapkan. Maksud firman Allah {لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ} adalah bahwa setiap perkara yang Allah tetapkan memiliki catatan di sisi-Nya.
Allah menghapus dari catatan tersebut apa yang Dia kehendaki untuk diwujudkan dan diberlakukan kepada pihak yang bersangkutan, serta menetapkan apa yang Dia kehendaki, yakni menangguhkannya hingga waktu yang telah ditentukan.
Di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab, yaitu pokok dan asal catatan yang tidak mengalami perubahan sedikit pun.
Karena itu, turunnya azab kepada orang-orang kafir dan pertolongan Allah kepada orang-orang mukmin, masing-masing memiliki waktu tertentu yang telah ditetapkan.
Penghapusan mencakup berbagai ketetapan takdir. Doa dapat menjadi sebab tertolaknya suatu takdir. Seseorang juga dapat terhalang dari rezekinya karena dosa yang dilakukannya, dan umurnya dapat bertambah dengan menyambung tali silaturahmi serta berbuat baik kepada kerabat.
Telah disebutkan sebelumnya dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sebuah hadis:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
Adapun pokok-pokok ketetapan tidak mengalami perubahan, yaitu penciptaan, akhlak, ajal, rezeki, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Apa yang telah tetap dalam ilmu Allah tidak akan berubah, seperti terjadinya Kiamat, batas waktu manusia berada di dalam kubur, serta seluruh ajal dan ketetapan lainnya yang telah ditulis.
Ibnu Abbas pernah ditanya tentang makna Ummul Kitab. Beliau menjawab, “Ummul Kitab adalah ilmu Allah tentang apa yang akan Dia ciptakan dan tentang apa yang akan dikerjakan oleh makhluk-Nya.”
Kemudian Allah berfirman kepada ilmu-Nya, “Jadilah sebuah kitab.” Dengan demikian, tidak ada perubahan dalam ilmu Allah Ta‘ala.
‘Ikramah berkata, “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki melalui tobat, yaitu seluruh dosa, dan Dia mengganti dosa-dosa itu dengan kebaikan.” Allah Ta‘ala berfirman:
اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al-Furqān [25]:70)
Kesimpulan: Akidah kita adalah bahwa tidak ada perubahan pada ketetapan Allah Ta‘ala. Adapun penghapusan dan penetapan yang disebutkan dalam ayat tersebut merupakan bagian dari ketetapan Allah yang telah ditentukan sebelumnya.
Ketetapan (qadha) ada yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari, dan itulah ketetapan yang tetap. Ada pula ketetapan yang dapat dialihkan dengan sebab-sebab tertentu, dan itulah yang dihapus.
Penghapusan tersebut dapat terjadi melalui doa, atau dengan menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada kerabat, atau disebabkan dosa yang dilakukan.
Penghapusan juga mencakup nasakh syariat, yaitu suatu syariat dapat digantikan dengan syariat yang lain. Contohnya adalah Al-Qur’an yang menasakh syariat-syariat sebelumnya, berdasarkan kemaslahatan dan hikmah yang menuntutnya. Demikian pula perubahan arah menghadap dari Baitul Maqdis dan pengalihan kiblat ke Ka‘bah, serta perkara-perkara lainnya.
Semua itu terjadi berdasarkan qadha dan qadar Allah, dan segala sesuatu terikat dengan waktu yang telah ditetapkan baginya.