Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِّنْ اَرْضِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَاۗ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظّٰلِمِيْنَ ۗ * وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗذٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِيْ وَخَافَ وَعِيْدِ * وَاسْتَفْتَحُوْا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍۙ * مِّنْ وَّرَاۤىِٕهٖ جَهَنَّمُ وَيُسْقٰى مِنْ مَّاۤءٍ صَدِيْدٍۙ * يَّتَجَرَّعُهٗ وَلَا يَكَادُ يُسِيْغُهٗ وَيَأْتِيْهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَّمَا هُوَ بِمَيِّتٍۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهٖ عَذَابٌ غَلِيْظٌ
Orang-orang yang kufur berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu benar-benar kembali memeluk agama kami.” Maka, Tuhan mereka (para rasul) mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu. Kami pasti akan menempatkanmu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (berlaku) bagi orang yang takut akan kebesaran-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” Mereka (para rasul) memohon diberi kemenangan dan kecewalah setiap orang yang sewenang-wenang lagi sangat keras kepala. Di hadapannya ada (neraka) Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. Diteguk-teguknya (air nanah itu), dia hampir tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak kunjung mati. Di hadapannya (masih ada) azab yang berat. (Ibrāhīm [14]:13 – 17)
Fiqih Kehidupan
- Jangan meninggalkan kebenaran karena tekanan manusia
Kaum kafir memberikan ultimatum:
لَنُخْرِجَنَّكُم مِّنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا
“Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu benar-benar kembali memeluk agama kami.”
Ketika seseorang berada dalam tekanan agar meninggalkan prinsip agama yang benar, ia tidak boleh menjadikan tekanan manusia sebagai alasan untuk mengikuti kebatilan.
Ini bukan berarti setiap persoalan harus dihadapi secara keras. Yang dituntut adalah tidak menggadaikan prinsip karena takut kehilangan kenyamanan, status, pekerjaan, penerimaan sosial, atau harta.
- Allah menjanjikan kehancuran bagi orang zalim
Ingatlah bahwa Allah menjanjikan kehancuran bagi orang-orang zalim dan memberikan tempat kepada orang-orang yang beriman. Ini sudah terjadi dalam banyak kesempatan, misal Nabi semula diusir dari Mekah, namun pada akhirnya menaklukkan Mekah.
لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ * وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ
“Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu. Kami pasti akan menempatkanmu di negeri-negeri itu setelah mereka.” (Ibrāhīm [14]:13 – 14)
Maka jangan takut secara berlebihan kepada manusia hanya karena mereka sedang memiliki kekuasaan. Kekuasaan manusia terbatas dan sementara, sedangkan keputusan akhir berada di tangan Allah.
- Takut Kepada Allah Harus Memengaruhi Keputusan Sehari-Hari
Allah ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ
“Yang demikian itu (berlaku) bagi orang yang takut akan kebesaran-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” (Ibrāhīm [14]:14)
Ibn Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang yang takut berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat dan takut terhadap ancaman-Nya.
Maka sebelum mengambil keputusan, seorang Muslim tidak cukup bertanya: “Apa yang menguntungkan saya?”
Tetapi juga: “Bagaimana saya mempertanggungjawabkan keputusan ini di hadapan Allah?”
Baik itu dalam mencari nafkah, transaksi, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, penggunaan harta, perkataan, keputusan keluarga, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui perbuatan kita.
- Para Rasul Yang Dijanjikan Menang Oleh Allah Ta’ala Saja Tetap Berdoa Mohon Kemenangan
Allah ta’ala berfirman:
وَاسْتَفْتَحُوْا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍۙ
Mereka (para rasul) memohon diberi kemenangan dan kecewalah setiap orang yang sewenang-wenang lagi sangat keras kepala. (Ibrāhīm [14]:13 – 18)
Maka ketika menghadapi tekanan dan kebatilan, seorang Muslim hendaknya senantiasa meminta pertolongan kepada Allah. Jangan menghadapi masalah dengan mengandalkan kemampuan pribadi. Karena tanpa pertolongan Allah, kita ini bukanlah siapa – siapa. Teruslah berdoa di setiap kesempatan.
- Dua penyakit hati yang mencelakakan
- Jabbārun: orang yang merasa dirinya besar/sombong.
- ‘inād: mengetahui atau berhadapan dengan kebenaran tetapi tetap menolaknya karena keras kepala.
وَاسْتَفْتَحُوْا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍۙ * مِّنْ وَّرَاۤىِٕهٖ جَهَنَّمُ وَيُسْقٰى مِنْ مَّاۤءٍ صَدِيْدٍۙ
Mereka (para rasul) memohon diberi kemenangan dan kecewalah setiap orang yang sewenang-wenang lagi sangat keras kepala. Di hadapannya ada (neraka) Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. (Ibrāhīm [14]:15 – 16)
Cek diri sendiri, ada nggak kesombongan atau sikap keras kepala. Kadang, ketika kita dinasehati orang, kita sudah bertahan terlebih dahulu. Menafikan terus. Hati – hati. Itu bisa mencelakakan.
- Tiga golongan yang akan dimasukkannya ke dalam Jahannam
Salah satu dari tiga golongan yang akan dimasukkan ke dalam jahannam adalah orang yang sombong lagi keras kepala (جَبَّار عَنِيد)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
تَخْرُجُ عُنُقٌ مِنْ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهَا عَيْنَانِ تُبْصِرَانِ وَأُذُنَانِ تَسْمَعَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقُ يَقُولُ إِنِّي وُكِّلْتُ بِثَلَاثَةٍ بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ وَبِكُلِّ مَنْ دَعَا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَبِالْمُصَوِّرِينَ
“Pada hari Kiamat akan keluar sebuah leher dari neraka. Ia memiliki dua mata yang dapat melihat, dua telinga yang dapat mendengar, dan sebuah lidah yang dapat berbicara. Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku ditugaskan untuk menghadapi tiga golongan: setiap orang yang sombong lagi keras kepala, setiap orang yang menyembah sesembahan lain bersama Allah, dan para pembuat gambar/bentuk (makhluk bernyawa).” HR. At-Tirmidzi dan Ahmad.
- Salah satu air minum neraka jahanam adalah nanah
Di dunia, ketika terasa haus, sungguh nikmat sekali meneguk segelas air putih. Di neraka jahannam, tidak ada air putih. Adanya minuman berupa nanah. Na’udzubillahi min dzalik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِّنْ وَّرَاۤىِٕهٖ جَهَنَّمُ وَيُسْقٰى مِنْ مَّاۤءٍ صَدِيْدٍۙ * يَّتَجَرَّعُهٗ وَلَا يَكَادُ يُسِيْغُهٗ
Di hadapannya (yaitu dihadapan orang yang sewenang-wenang lagi sangat keras kepala) ada (neraka) Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. Diteguk-teguknya (air nanah itu), dia hampir tidak bisa menelannya. (Ibrāhīm [14]:16-17)
- Level Azab di Neraka Itu Sangat Mematikan, Namun Yang Diazab Nggak Mati – Mati
Salah satu sifat azab neraka adalah kalau manusia kena azab itu, niscaya mati. Misal minum air mendidih, pakai sandal api dst. Namun, Allah tidak menghendaki mereka mati begitu saja karena azab tersebut. Bahkan mereka tetap hidup untuk terus merasakannya. Ibarat ketabrak truk tronton, nggak langsung mati, tapi masih hidup, betapa menderitanya. Na’udzubillahi min dzalik.
وَيَأْتِيْهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَّمَا هُوَ بِمَيِّتٍۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهٖ عَذَابٌ غَلِيْظٌ
Dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak kunjung mati. Di hadapannya (masih ada) azab yang berat. (Ibrāhīm [14]:17)
- Azab di Neraka Itu Terus Menerus Ada
Sifat azab di neraka itu terus terusan ada. Para penghuni neraka terkadang berada dalam keadaan memakan buah zaqqum (buah neraka), terkadang dalam keadaan meminum air yang sangat panas (hamim), dan terkadang mereka dikembalikan ke dalam Jahim.
Tidak seperti penjara dunia yang hanya dikerangkeng saja. Bahkan penjaganya bisa disuap buat dapat fasilitas lebih. Ketahuilah neraka tidaklah demikian. Azabnya ada terus menerus dan sangat pedih. Na’udzubillahi min dzalik.
يَّتَجَرَّعُهٗ وَلَا يَكَادُ يُسِيْغُهٗ وَيَأْتِيْهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَّمَا هُوَ بِمَيِّتٍۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهٖ عَذَابٌ غَلِيْظٌ
Diteguk-teguknya (air nanah itu), dia hampir tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak kunjung mati. Di hadapannya (masih ada) azab yang berat. (Ibrāhīm [14]:17)