Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَؤُا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ وَّثَمُوْدَ ەۗ وَالَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗ لَا يَعْلَمُهُمْ اِلَّا اللّٰهُ ۗجَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَرَدُّوْٓا اَيْدِيَهُمْ فِيْٓ اَفْوَاهِهِمْ وَقَالُوْٓا اِنَّا كَفَرْنَا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ وَاِنَّا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُوْنَنَآ اِلَيْهِ مُرِيْبٍ
Apakah belum sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang setelah mereka? Tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka selain Allah. Rasul-rasul telah datang kepada mereka dengan (membawa) bukti-bukti yang nyata, tetapi mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (sebagai tanda penolakan dan karena kebencian) dan berkata, “Sesungguhnya kami tidak percaya akan ajaran yang kamu bawa dan kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan menyangkut apa yang kamu serukan kepada kami.”
(Ibrāhīm [14]:9)
Faedah Ayat:
1. Hendaknya manusia mengambil pelajaran dari keadaan orang-orang terdahulu yang mendustakan para rasul mereka, mencemooh, dan mengolok-olok mereka. Akibatnya, mereka mengalami kehancuran dan kebinasaan.
2. Sikap orang-orang kafir terhadap para nabi mereka memiliki tiga tingkatan:
Tingkatan pertama: Mereka tidak mau menerima perkataan para nabi ‘alaihissalam, bahkan berusaha membungkam para nabi agar berhenti menyampaikan dakwah tersebut.
Tingkatan kedua: Mereka secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka kafir terhadap kerasulan tersebut.
Tingkatan ketiga: Pada akhirnya, setidaknya mereka menjadi orang-orang yang ragu dan bimbang terhadap kebenaran kenabian.
3.
فَرَدُّوْٓا اَيْدِيَهُمْ فِيْٓ اَفْوَاهِهِمْ
Ada tiga pendapat mengenai maknanya:
Pertama, dhamir (kata ganti) tersebut kembali kepada kaum para rasul. Maknanya: mereka memasukkan tangan mereka ke mulut mereka sendiri karena kemarahan terhadap para rasul. Hal ini seperti firman Allah:
عَضُّوْا عَلَيْكُمُ الْاَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ
Mereka menggigit ujung jari karena murka kepadamu. (Āli ‘Imrān [3]:119)
Atau karena mengejek dan tertawa, seperti orang yang tidak mampu menahan tawanya lalu meletakkan tangannya di mulut.
Kedua, dhamir tersebut juga kembali kepada mereka. Maknanya: mereka memasukkan tangan mereka ke mulut mereka sendiri sebagai isyarat kepada para nabi agar diam.
Ketiga, mereka memasukkan tangan mereka ke mulut para nabi untuk membungkam mereka.