Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa asy-Syarī‘ah wa al-Manhaj karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, tafsir QS. Ar-Ra‘d ayat 30-34.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَذٰلِكَ اَرْسَلْنٰكَ فِيْٓ اُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَآ اُمَمٌ لِّتَتْلُوَا۟ عَلَيْهِمُ الَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُوْنَ بِالرَّحْمٰنِۗ قُلْ هُوَ رَبِّيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ مَتَابِ * وَلَوْ اَنَّ قُرْاٰنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ اَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْاَرْضُ اَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتٰىۗ بَلْ لِّلّٰهِ الْاَمْرُ جَمِيْعًاۗ اَفَلَمْ يَا۟يْـَٔسِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا تُصِيْبُهُمْ بِمَا صَنَعُوْا قَارِعَةٌ اَوْ تَحُلُّ قَرِيْبًا مِّنْ دَارِهِمْ حَتّٰى يَأْتِيَ وَعْدُ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَ * وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَاَمْلَيْتُ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثُمَّ اَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ * اَفَمَنْ هُوَ قَاۤىِٕمٌ عَلٰى كُلِّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْۚ وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ ۗ قُلْ سَمُّوْهُمْۗ اَمْ تُنَبِّـُٔوْنَهٗ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى الْاَرْضِ اَمْ بِظَاهِرٍ مِّنَ الْقَوْلِ ۗبَلْ زُيِّنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوْا عَنِ السَّبِيْلِ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ * لَهُمْ عَذَابٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَقُّۚ وَمَا لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ وَّاقٍ
Seperti (pengutusan para rasul sebelummu) itulah, Kami (juga) mengutusmu (Nabi Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah, “Dia Tuhanku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.” Sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengannya gunung-gunung dapat digeserkan, bumi dibelah, atau orang mati dapat diajak bicara, (itulah Al-Qur’an). Sebenarnya segala urusan itu milik Allah. Tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa sekiranya Allah menghendaki, tentu Allah telah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Orang-orang yang kufur senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi di dekat tempat kediaman mereka, sampai datang janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. Sungguh, para rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad) benar-benar telah diolok-olok. Maka, Aku memberi tenggang waktu kepada orang-orang yang kufur itu, kemudian Aku siksa mereka. Alangkah dahsyatnya hukuman-Ku! Apakah Dia yang mengawasi setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya (sama dengan tuhan yang tidak demikian)? Mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu! Apakah kamu hendak memberitahukan kepada-Nya apa yang tidak diketahui-Nya di bumi atau (mengatakan tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja.” Sebenarnya bagi orang-orang yang kufur, tipu daya mereka itu dijadikan terasa indah dan mereka dihalangi dari jalan (yang benar). Siapa yang disesatkan Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk baginya. Bagi merekalah azab (yang pedih) dalam kehidupan dunia dan azab akhirat pasti lebih pedih. Tidak ada seorang pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah. (Ar-Ra‘d [13]:30-34).
Sebab Turunnya Ayat (QS. Ar-Ra’d: 31)
Ath-Thabrani dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Orang-orang musyrik berkata kepada Nabi ﷺ, “Jika benar seperti yang engkau katakan, maka perlihatkanlah kepada kami nenek moyang kami yang telah meninggal agar kami dapat berbicara dengan mereka. Dan singkirkanlah gunung-gunung di sekitar Makkah yang telah menghimpit kami.”
Lalu Allah menurunkan firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ…
“Sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengannya gunung-gunung dapat digeserkan….” (QS. Ar-Ra’d: 31).
Dalam riwayat Ibnu Jarir dan Abu Asy-Syaikh Ibnu Hayyan Al-Anshari, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan bahwa mereka berkata, “Gerakkanlah gunung-gunung dengan Al-Qur’an, belahlah bumi dengan Al-Qur’an, dan hidupkanlah orang-orang yang telah mati untuk kami.” Maka ayat tersebut pun diturunkan.
Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Athiyyah Al-‘Aufi, ia berkata:
Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, “Seandainya engkau menggerakkan gunung-gunung Makkah untuk kami sehingga menjadi lapang, lalu kami dapat bercocok tanam di sana; atau engkau membelah bumi untuk kami sebagaimana Sulaiman membelahnya bagi kaumnya dengan perantaraan angin; atau engkau menghidupkan orang-orang mati untuk kami sebagaimana Isa menghidupkan orang-orang mati bagi kaumnya.”
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ…
“Sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengannya gunung-gunung dapat digeserkan….” (QS. Ar-Ra’d: 31).
Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Al-Mundzir, dan selain keduanya meriwayatkan dari Asy-Sya’bi, ia berkata:
Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Jika engkau benar-benar seorang nabi sebagaimana yang engkau klaim, maka jauhkanlah dari kami dua gunung Makkah ini, yaitu Al-Akhsyabain (dua gunung di Makkah), sejauh perjalanan empat atau lima hari. Sesungguhnya Makkah ini sempit, sehingga kami dapat bercocok tanam dan menggembala di sana. Bangkitkanlah pula untuk kami nenek moyang kami yang telah meninggal agar mereka berbicara dengan kami dan memberitahukan bahwa engkau benar-benar seorang nabi. Atau bawalah kami ke Syam, Yaman, atau Hirah, sehingga kami dapat pergi dan kembali dalam satu malam, sebagaimana yang engkau klaim telah engkau lakukan.”
Maka turunlah ayat ini.
Keterkaitan Ayat:
Setelah Allah menceritakan kepada kita berbagai permintaan orang-orang musyrik akan tanda-tanda (mukjizat) yang membuktikan kenabian Muhammad ﷺ, Allah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad tidak berbeda dengan para rasul sebelumnya bersama kaum mereka. Kaum-kaum terdahulu juga meminta berbagai mukjizat kepada para nabi mereka. Allah mengabulkan permintaan mereka, namun mereka tetap tidak beriman. Karena itu, mereka ditimpa azab pemusnahan (istiṣāl).
Sekiranya mereka menginginkan suatu mukjizat, sungguh Kami telah menganugerahkan kepadamu kitab ini, dan engkau membacakannya kepada mereka. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk mendatangkan mukjizat-mukjizat yang mereka usulkan. Akan tetapi, hal itu tidak akan mewujudkan tujuan yang diharapkan (yaitu keimanan mereka). Kemudian Allah mengancam mereka dengan suatu bencana besar yang akan menimpa mereka. Setelah itu, Allah menghibur Nabi ﷺ atas ejekan yang mereka tujukan kepadanya.
Tafsir dan Penjelasan:
Sebagaimana Kami telah mengutus para rasul kepada umat-umat terdahulu, demikian pula Kami mengutusmu, wahai Muhammad, kepada umat ini agar engkau menyampaikan risalah Allah kepada mereka dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu. Para rasul sebelummu juga telah didustakan, maka mereka adalah teladan bagimu. Sebagaimana Kami telah menimpakan azab dan hukuman Kami kepada umat-umat terdahulu, hendaklah mereka (orang-orang musyrik) takut kalau-kalau hukuman itu juga menimpa mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
تَاللّٰهِ لَقَدْ اَرْسَلْنَآ اِلٰٓى اُمَمٍ مِّنْ قَبْلِكَ
Demi Allah, sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau (Nabi Muhammad). (An-Naḥl [16]:63)
Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَا ۚوَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۚوَلَقَدْ جَاۤءَكَ مِنْ نَّبَا۟ىِٕ الْمُرْسَلِيْنَ
Sungguh rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah kalimāt Allah. Sungguh, telah datang kepadamu sebagian berita rasul-rasul itu.
(Al-An‘ām [6]:34)
Kesimpulannya, Kami telah mengutusmu dengan membawa sebuah kitab yang engkau sampaikan dan bacakan kepada manusia, sebagaimana Kami telah mengutus para rasul kepada umat-umat sebelum engkau. Ketika para rasul itu didustakan, maka perhatikanlah bagaimana Kami menolong mereka dan menjadikan kesudahan yang baik bagi mereka dan para pengikut mereka, baik di dunia maupun di akhirat.
وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمٰنِ
“Padahal mereka kafir kepada Ar-Rahman.”
Maksudnya, padahal keadaan umat yang Kami mengutusmu kepada mereka ini adalah mereka kafir kepada Ar-Rahman, Dzat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Mereka tidak mengakui-Nya, tidak mensyukuri nikmat dan karunia-Nya, bahkan mereka mengatakan bahwa Dia mempunyai sekutu.
قُلْ: هُوَ رَبِّي، لا إِلهَ إِلاّ هُوَ
Katakanlah: “Dialah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia.” Maksudnya, katakanlah kepada mereka, “Ar-Rahman yang kalian ingkari itu, aku beriman kepada-Nya, mengakui-Nya, serta menetapkan bagi-Nya rububiyah dan uluhiyah. Dialah yang mengurus seluruh urusanku, Dialah Penciptaku, dan Dialah Rabbku. Tidak ada rabb selain Dia dan tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain-Nya.”
عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ
Hanya kepada-Nya aku bertawakal, yaitu aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Nya, mempercayakan semuanya kepada-Nya, serta menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya.
وَإِلَيْهِ مَتَابِ
Dan hanya kepada-Nya tempat kembaliku, yaitu hanya kepada-Nya aku kembali dan bertaubat. Tidak ada seorang pun selain-Nya yang berhak menjadi tujuan kembali dan taubat tersebut. Atau maknanya, hanya kepada-Nya taubatku, sebagaimana makna firman-Nya:
وَّاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ
Mohonlah ampun untuk dosamu. (Gāfir [40]:55)
Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan keagungan, kedudukan, dan keutamaan Al-Qur’an di atas seluruh kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا…
Maksudnya, seandainya di antara kitab-kitab terdahulu ada suatu kitab yang dengan bacaannya gunung-gunung dapat dipindahkan dari tempatnya, atau bumi dapat dibelah dan dipancarkan menjadi sungai-sungai serta mata air, atau orang-orang yang telah mati dapat diajak berbicara di dalam kuburnya dengan dihidupkan kembali melalui pembacaannya, niscaya Al-Qur’an inilah kitab yang memiliki keistimewaan tersebut, bukan kitab yang lain.
Bahkan, Al-Qur’an lebih layak memiliki keistimewaan itu karena mengandung mukjizat yang tidak mampu ditandingi oleh manusia dan jin. Mereka tidak sanggup mendatangkan yang semisal dengannya, bahkan tidak pula satu surah yang semisal dengannya. Al-Qur’an juga merupakan kitab yang tidak dapat dimasuki kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. Selain itu, Al-Qur’an memuat berbagai dalil kauniyah yang menunjukkan adanya Sang Pencipta, serta hukum-hukum dan sistem kehidupan yang memperbaiki keadaan manusia dan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Makna ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala:
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ
Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. (Al-Ḥasyr [59]:21)
بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا
Bahkan, seluruh urusan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Sebaliknya, barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya.
Dialah Yang Mahasuci, Pemilik kehendak dan keputusan dalam menurunkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya), dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Seandainya memenuhi permintaan yang mereka usulkan mengandung hikmah dan maslahat, niscaya Allah akan mewujudkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an saja telah cukup sebagai mukjizat bagi orang-orang yang berakal.
Kehendak Allah tidak menetapkan selain itu, karena Dia mengetahui bahwa tidak ada manfaatnya memenuhi tuntutan mereka. Hati mereka tidak akan menjadi lunak; bahkan hati mereka laksana batu, atau lebih keras lagi.
Oleh karena itu, kesesatan dan hidayah berjalan sesuai dengan sunnatullah berupa hukum sebab-akibat. Allah telah menurunkan dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang cukup untuk menjadi petunjuk. Maka, siapa yang berpaling darinya akan tersesat. Berpaling dari ayat-ayat itulah yang menjadi sebab kesesatannya.
أَفَلَمْ يَيْأَسِ…
Maksudnya, tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah Mahakuasa; seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada seluruh manusia agar beriman kepada Al-Qur’an.
Atau, tidakkah orang-orang yang beriman berputus asa dari harapan agar seluruh manusia beriman, lalu mereka mengetahui atau menjadi jelas bagi mereka bahwa seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada seluruh manusia menuju agama-Nya. Sebab, tidak ada hujah dan mukjizat yang lebih kuat serta lebih berpengaruh terhadap akal dan jiwa daripada Al-Qur’an.
Telah tetap dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
ما من نبي إلا وقد أوتي ما آمن على مثله البشر، وإنما كان الذي أوتيته وحيا أوحاه الله إلي، فأرجو أن أكون أكثرهم تابعا يوم القيامة
“Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah diberi mukjizat yang dengannya manusia beriman. Adapun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Karena itu, aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat.”
Maksudnya, mukjizat setiap nabi berakhir seiring wafatnya. Adapun Al-Qur’an merupakan hujah yang akan tetap ada sepanjang zaman. Keajaiban-keajaibannya tidak akan pernah habis, tidak akan usang meskipun berulang kali dibaca, dan para ulama tidak akan pernah merasa jenuh untuk mengkajinya.
Al-Qur’an adalah pembeda antara yang hak dan yang batil, bukan perkataan yang sia-sia. Barang siapa meninggalkannya karena kesombongan, niscaya Allah akan membinasakannya. Dan barang siapa mencari petunjuk selain darinya, niscaya Allah akan menyesatkannya.
وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا…
Maksudnya, orang-orang kafir akan senantiasa ditimpa berbagai bencana dan malapetaka di dunia, seperti terbunuh, ditawan, dan dirampas harta bendanya, disebabkan pendustaan mereka terhadapmu dan terus-menerusnya mereka dalam kekufuran.
Atau, musibah-musibah itu menimpa orang-orang yang berada di sekitar mereka agar mereka mengambil pelajaran dan menjadi sadar. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَقَدْ اَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِّنَ الْقُرٰى وَصَرَّفْنَا الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Sungguh, benar-benar telah Kami binasakan negeri-negeri di sekitarmu (penduduk Makkah) dan telah Kami ulang-ulang (jelaskan) tanda-tanda (kebesaran Kami) agar mereka kembali (dari kekufuran). (Al-Aḥqāf [46]:27)
حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ
Maksudnya, hingga Allah merealisasikan janji-Nya kepadamu terhadap mereka, yaitu dengan memberikan kemenangan kepadamu atas mereka. Menurut Ibnu Abbas dan ulama lainnya, yang dimaksud adalah Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah).
Atau, maksudnya hingga berakhirnya kehidupan dunia bagi orang-orang kafir yang lain, yakni dengan datangnya kematian atau Hari Kiamat.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Sesungguhnya Allah pasti menepati janji-Nya yang telah Dia janjikan kepadamu, yaitu kemenangan atas mereka. Dia tidak akan pernah mengingkari janji-Nya kepada para rasul-Nya untuk memberikan pertolongan kepada mereka dan para pengikut mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman-Nya:
فَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ مُخْلِفَ وَعْدِهٖ رُسُلَهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ
Oleh karena itu, jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan. (Ibrāhīm [14]:47)
Kemudian Allah menurunkan ayat sebagai hiburan dan penghibur bagi Nabi-Nya atas ejekan mereka ketika meminta ayat-ayat (mukjizat) tersebut, sebagai penghibur atas beban yang beliau rasakan karenanya, serta atas pendustaan sebagian kaumnya. Maka Allah berfirman:
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ…
“Sungguh, telah diperolok-olok para rasul sebelum engkau…”
Maksudnya, jika sebagian kaummu mendustakanmu, orang-orang musyrik memperolok-olokmu, dan meminta berbagai ayat (mukjizat) darimu hanya karena keras kepala dan sikap membangkang, maka bersabarlah menghadapi gangguan mereka. Sebab, pada diri para rasul terdahulu terdapat teladan bagimu.
Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan perlakuan-Nya terhadap mereka dengan berfirman:
فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا
Yakni, Aku memberi mereka penangguhan dan membiarkan mereka selama beberapa waktu, kemudian Aku menimpakan azab kepada mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kerasnya hukuman-Ku ketika Aku mengazab mereka.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ اَخَذْتُهَاۚ وَاِلَيَّ الْمَصِيْرُ
Berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan (siksa)-nya, padahal (penduduk)-nya berbuat zalim, kemudian Aku siksa mereka. Hanya kepada-Ku tempat kembali (segala sesuatu). (Al-Ḥajj [22]:48)
Disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Sesungguhnya Allah benar-benar memberi penangguhan kepada orang yang zalim. Namun, apabila Dia telah mengazabnya, Dia tidak akan melepaskannya.”
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah Ta’ala:
وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ
Demikianlah siksaan Tuhanmu apabila Dia mengazab (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya siksaan-Nya sangat pedih lagi sangat berat. (Hūd [11]:102)
Yang dimaksud oleh ayat ini ialah bahwa Allah akan membalas orang-orang kafir tersebut, sebagaimana Dia telah membalas umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul.
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan sesuatu yang menjadi celaan bagi mereka atas sikap dan cara berpikir mereka, sekaligus sesuatu yang mengundang keheranan terhadap keadaan mereka. Allah berfirman:
أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ…
Maksudnya, apakah Allah yang senantiasa mengawasi setiap jiwa, mengetahui segala amal yang mereka kerjakan, baik maupun buruk, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, serta Mahakuasa atas segala sesuatu, dapat disamakan dengan selain-Nya?
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Engkau (Nabi Muhammad) tidak berada dalam suatu urusan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak ada yang luput sedikit pun dari (pengetahuan) Tuhanmu, walaupun seberat zarah, baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, kecuali semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (Yūnus [10]:61)
وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا
Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. (Al-An‘ām [6]:59)
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (Hūd [11]:6)
Karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu, maka bagaimana mungkin mereka menyamakan Zat Yang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui dengan sesuatu yang tidak mampu memberi manfaat ataupun menolak mudarat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi selainnya? Bagaimana mungkin mereka menjadikannya sebagai tuhan yang mereka harapkan darinya manfaat dan perlindungan dari mudarat?!
Yang dimaksud oleh ayat ini adalah meniadakan adanya keserupaan antara Allah dengan sesembahan-sesembahan mereka.
Kemudian Allah Ta’ala menegaskan kembali makna yang telah disebutkan sebelumnya dengan firman-Nya:
وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ
Yakni, mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Mereka menyembah sekutu-sekutu itu bersama Allah, berupa berhala-berhala, patung-patung, dan tandingan-tandingan yang mereka jadikan sebagai sesembahan selain-Nya.
Kemudian Allah mencela mereka sekali lagi dengan firman-Nya:
قُلْ: سَمُّوهُمْ
Yakni, katakanlah kepada mereka, “Sebutkanlah sifat-sifat mereka kepada Kami. Beritahukanlah kepada Kami siapakah mereka, dan jelaskanlah hakikat mereka agar diketahui.”
Sesungguhnya mereka tidak memiliki hakikat sebagai sesembahan dan tidak pantas untuk diibadahi, karena mereka tidak mampu memberikan manfaat maupun menolak mudarat.
أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ
Yakni, apakah kalian hendak memberitahukan kepada Allah tentang adanya sekutu-sekutu yang disembah, padahal sekutu-sekutu itu sama sekali tidak memiliki wujud? Sebab, seandainya sekutu-sekutu itu benar-benar ada di bumi, niscaya Allah mengetahuinya, karena tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.
Ayat ini merupakan penafian terhadap keberadaan sekutu-sekutu tersebut. Adapun bentuk pertanyaan dalam ayat ini adalah pertanyaan yang bermaksud mencela (istifham taubikh).
أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ
Yakni, apakah kalian menyebut mereka sebagai sekutu-sekutu Allah hanya berdasarkan sangkaan belaka bahwa mereka dapat memberi manfaat dan menolak mudarat? Ataukah itu hanyalah perkataan yang batil?
Artinya, kalian menyembah berhala-berhala itu semata-mata karena anggapan kalian bahwa berhala-berhala tersebut dapat memberi manfaat dan menolak mudarat. Kalian pun menamakannya sebagai tuhan-tuhan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اِنْ هِيَ اِلَّآ اَسْمَاۤءٌ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُۚ وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰىۗ
(Berhala-berhala) itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu ada-adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)-nya. Mereka hanya mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu. Padahal, sungguh, mereka benar-benar telah didatangi petunjuk dari Tuhan mereka. (An-Najm [53]:23)
Kesimpulannya, ayat {أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ…} merupakan hujah yang membantah kaum musyrikin, celaan terhadap mereka, sekaligus menunjukkan betapa mengherankan cara berpikir mereka. Tujuannya adalah meniadakan adanya dalil, baik dalil akal maupun dalil syariat, yang menunjukkan bahwa sekutu-sekutu tersebut berhak untuk disembah.
بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ
Yakni, tidak ada gunanya lagi berdebat atau berhujah dengan mereka. Sebab, mereka adalah kaum yang telah dihiasi kekufuran dan tipu daya mereka sendiri, yaitu kesesatan yang mereka anut dan terus mereka serukan siang dan malam.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاۤءَ فَزَيَّنُوْا لَهُمْ مَّا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
Kami menetapkan bagi mereka teman-teman (dari setan) yang memuji-muji apa saja yang ada di hadapan (nafsu dan kelezatan dunia) dan di belakang (angan-angan) mereka. (Fuṣṣilat [41]:25)
وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ
Yakni, mereka dipalingkan dari jalan yang benar, yaitu jalan Allah dan agama yang lurus, karena telah dihiasi dalam pandangan mereka bahwa apa yang mereka anut adalah kebenaran.
وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ…
Yakni, barang siapa yang Allah biarkan tersesat karena kekufuran dan kemaksiatannya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya taufik untuk memperoleh hidayah dan menempuh jalan keselamatan serta kebahagiaan.
Makna ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ فِتْنَتَهٗ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا
Siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka sekali-kali engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah. (Al-Mā’idah [5]:41)
Dan firman-Nya:
اِنْ تَحْرِصْ عَلٰى هُدٰىهُمْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ يُّضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ
Jika engkau (Nabi Muhammad) berusaha keras untuk memberi mereka petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang telah Dia sesatkan dan mereka tidak mempunyai penolong. (An-Naḥl [16]:37)
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan balasan bagi mereka dengan firman-Nya:
لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Yakni, bagi mereka azab yang keras di dunia, melalui tangan kaum mukminin berupa pembunuhan, penawanan, kehinaan, dan peperangan. Atau berupa berbagai cobaan yang menimpa tubuh mereka dan berbagai musibah lainnya.
وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ
Yakni, azab yang disimpan untuk mereka di akhirat jauh lebih berat dan lebih dahsyat daripada azab di dunia.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda kepada dua orang yang saling melakukan li’an, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Umar:
إن عذاب الدنيا أهون من عذاب الآخرة
“Sesungguhnya azab di dunia lebih ringan daripada azab di akhirat.”
Sebab, azab di dunia hanya bersifat sementara, sedangkan azab di akhirat kekal selama-lamanya di dalam neraka. Neraka itu tingkat panasnya tujuh puluh kali lipat dibandingkan api di dunia.
وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ
Yakni, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi dan menjaga mereka dari azab Allah ataupun menyelamatkan mereka darinya. Tidak ada pula seorang pun yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah, kecuali dengan izin-Nya.
Fiqih Kehidupan atau Hukum-Hukum:
Ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa hal berikut:
- Pengutusan para rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ merupakan suatu hal yang umum terjadi. Sebagian kaum mereka ada yang beriman kepada para rasul tersebut, sedangkan kebanyakan dari mereka mendustakan para rasul dan kufur kepada Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih).
- Sebagaimana Allah telah mengutus para rasul kepada umat-umat terdahulu dan memberikan kepada mereka kitab-kitab yang dibacakan kepada mereka, demikian pula Allah memberikan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ kitab ini (Al-Qur’an), yang beliau bacakan kepada mereka. Maka mengapa mereka justru meminta yang lain?
- Allah adalah Tuhan yang benar, yang tidak ada Tuhan selain-Nya dan tidak ada yang berhak disembah selain-Nya. Dia Maha Esa dalam Zat-Nya, meskipun sifat-sifat-Nya beragam. Kepada-Nya seorang hamba bertawakal, bersandar, dan menaruh kepercayaan. Kepada-Nya pula tempat kembali seluruh hamba kelak. Kepada-Nya orang beriman bertawakal pada hari ini dan setiap waktu, dengan rida terhadap ketetapan-Nya dan berserah diri kepada perintah-Nya.
- Seandainya ada sebuah kitab samawi yang dapat memindahkan gunung-gunung dari tempatnya, memancarkan sungai-sungai dan mata air, membelah bumi, serta berbicara kepada orang-orang mati untuk menghidupkan mereka kembali, niscaya kitab itu adalah Al-Qur’an ini. Dan seandainya ada Al-Qur’an sebelum Al-Qur’an kalian yang dapat melakukan hal-hal tersebut, niscaya Al-Qur’an kalian pun dapat melakukannya.
- Hendaklah manusia mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia memberi petunjuk kepada seluruh manusia tanpa mereka harus menyaksikan tanda-tanda, melihat mukjizat-mukjizat, dan memperhatikan bukti-bukti yang terdapat di alam semesta. Akan tetapi, Allah Ta‘ala tidak menghendaki untuk memberi petunjuk kepada seluruh manusia.
- Orang-orang kafir pada setiap zaman senantiasa ditimpa bencana yang membinasakan, berupa petir, penawanan, kekeringan, gempa bumi, gunung meletus, atau berbagai bentuk azab dan malapetaka lainnya, sebagaimana yang menimpa orang-orang yang memperolok-olok, yaitu para pemimpin Quraisy.
Bencana itu terkadang menimpa orang-orang di sekitar mereka yang berada dekat dengan mereka, sehingga mereka pun terkena dampak azab tersebut.
- Ayat {وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ} menunjukkan adanya penghiburan bagi Nabi ﷺ dan penjelasan kepada beliau tentang kebodohan kaumnya. Sebab, kaum-kaum para nabi lainnya juga telah memperolok-olok para nabi mereka, sebagaimana kaummu memperolok-olokmu.
Ayat tersebut juga menunjukkan ancaman terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Ta‘ala memberi mereka tenggang waktu agar orang-orang yang telah Allah ketahui akan beriman di antara mereka dapat beriman. Kemudian, ketika ketetapan telah berlaku, Allah menghukum mereka dengan azab. Sebagaimana Allah telah memperlakukan orang-orang sebelum mereka, demikian pula Dia akan memperlakukan kaum musyrikin Makkah dan seluruh orang kafir pada setiap zaman.
- Sama sekali tidak ada keserupaan antara Allah Ta‘ala, yang memberi manfaat dan menimpakan mudarat sebagai akibat dari perbuatan hamba, dengan berhala-berhala yang tidak dapat memberi manfaat maupun menimpakan mudarat. Allah Ta‘ala Mahakuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui segala sesuatu.
Makna ayat tersebut adalah: Apakah Zat yang mengawasi dan menjaga setiap jiwa serta mengetahui apa yang diperbuatnya dapat disamakan dengan sekutu-sekutu mereka yang tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat?!
- Berhala-berhala itu tidak memiliki hakikat yang patut diperhitungkan. Tidak ada sekutu bagi Allah. Apa yang dijadikan sandaran oleh orang-orang musyrik hanyalah prasangka semata yang sama sekali tidak berguna untuk mencapai kebenaran, serta perkataan batil yang tidak memberikan manfaat sedikit pun.
Yang sebenarnya terjadi hanyalah bahwa setan telah menghiasi buruknya keyakinan mereka dan menghalangi mereka dari jalan Allah dan agama-Nya yang benar, atau menghiasi kesesatan dan kekufuran mereka.
- Barang siapa dibiarkan Allah tanpa pertolongan-Nya dan Allah mengetahui bahwa ia tidak akan mendapat petunjuk, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk dan taufik, serta menuntunnya menuju jalan keselamatan dan kebahagiaan.
- Bagi orang-orang musyrik yang menghalangi manusia dari kebenaran dan agama tauhid, terdapat azab di dunia berupa pembunuhan, penawanan, penghinaan, perendahan, serta berbagai penyakit, musibah, dan lainnya. Sedangkan di akhirat, mereka akan mendapatkan azab yang lebih berat. Tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah dan tidak ada pula yang dapat menolaknya dari mereka.
Ayat ini memberitakan bahwa Allah Ta‘ala menghimpunkan bagi mereka azab dunia dan azab akhirat yang lebih berat. Tidak ada yang dapat menolak azab tersebut dari mereka, baik di dunia maupun di akhirat.