Rezeki berada di tangan Allah, tanda-tanda (ayat-ayat atau mukjizat) berada di tangan Allah, dan hidayah berasal dari Allah, yang Dia berikan kepada orang yang beriman kepada Allah

Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa asy-Syarī‘ah wa al-Manhaj karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, tafsir QS. Ar-Ra‘d ayat 26-29.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗوَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ * وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اٰيَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ قُلْ اِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ اَنَابَۖ * الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ * اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوْبٰى لَهُمْ وَحُسْنُ مَاٰبٍ

Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia dibandingkan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit). Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk ke (jalan)-Nya bagi orang yang bertobat.” (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Ar-Ra‘d [13]:26-29).

Keterkaitan Ayat:

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan akibat yang akan diterima oleh orang beriman dan akibat yang akan diterima oleh orang musyrik, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang melapangkan rezeki dan menyempitkannya di dunia, karena dunia adalah tempat ujian. Maka, kelapangan rezeki yang diberikan kepada orang kafir tidak menunjukkan bahwa ia dimuliakan, dan kesempitan rezeki yang dialami sebagian orang beriman tidak menunjukkan bahwa mereka dihinakan. Dengan demikian, rezeki tidak berkaitan dengan kekafiran atau keimanan. Bisa jadi Allah melapangkan rezeki bagi orang kafir sebagai istidraj (penangguhan yang menyeret kepada azab), dan menyempitkan rezeki bagi orang beriman untuk menambah pahala dan balasannya.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan ucapan orang-orang musyrik yang sering dikisahkan dalam Al-Qur’an, yaitu permintaan mereka agar didatangkan suatu mukjizat yang bersifat fisik dan dapat ditangkap oleh pancaindra sebagai bukti kenabian Nabi Muhammad ﷺ, karena mereka mengingkari bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang menunjukkan kenabian beliau. Maka Allah membantah mereka dengan menjelaskan bahwa mengusulkan mukjizat tertentu kepada para rasul adalah suatu bentuk kebodohan.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang mukmin yang bertakwa serta pahala yang mereka peroleh di sisi-Nya. Pembahasan tentang orang-orang musyrik dan orang-orang mukmin di sini sesuai dengan penjelasan sebelumnya mengenai akibat yang akan diterima oleh orang mukmin dan akibat yang akan diterima oleh orang musyrik.

Tafsir dan Penjelasan:

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang musyrik akan memperoleh seburuk-buruk tempat kembali, maka tepatlah untuk membahas ketentuan rezeki di dunia, yaitu bahwa rezeki tidak berkaitan dengan keimanan maupun kekafiran. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ

“Allah melapangkan rezeki…”

Artinya, Allah Ta’ala-lah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki, karena hikmah dan keadilan yang ada pada-Nya, tanpa memandang apakah seseorang itu beriman atau kafir. Bisa jadi Allah menyempitkan rezeki seorang mukmin sebagai ujian dan cobaan, serta untuk menambah pahala baginya. Sebaliknya, Allah dapat melapangkan rezeki bagi orang kafir sebagai bentuk istidraj (penangguhan yang menyeret kepada azab) dan sebagai bentuk penghalangan baginya dari kenikmatan akhirat, sebagai wujud keadilan.

Karena itu, luasnya rezeki yang diberikan kepada orang kafir bukanlah bukti bahwa ia dimuliakan dan diridai Allah, sebagaimana sempitnya rezeki yang dialami seorang mukmin juga bukanlah bukti bahwa ia dihinakan dan dimurkai-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang rezeki yang diberikan kepada orang kafir:

اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّالٍ وَّبَنِيْنَ ۙ * نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرٰتِۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ

Apakah mereka mengira bahwa apa yang Kami berikan kepada mereka berupa harta dan anak-anak (itu berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidaklah demikian,) tetapi mereka tidak menyadarinya. (Al-Mu’minūn [23]:55)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, kelak Kami akan menarik mereka sedikit demi sedikit (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka sadari.” (QS. Al-A’raf: 182)

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang musyrik ketika mereka memperoleh kelapangan rezeki. Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾

“Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia.”

Maksudnya, orang-orang musyrik Mekah bergembira dengan kehidupan dunia dengan kegembiraan yang disertai kesombongan dan sikap melampaui batas. Mereka tidak mengenal selain kehidupan dunia dan tidak mengetahui apa yang Allah sediakan di sisi-Nya. Padahal, kenikmatan dunia jika dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan yang sementara, sedikit, dan akan segera lenyap.

Imam Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-Mustaurid, saudara Bani Fihr, bahwa ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Perbandingan dunia dengan akhirat hanyalah seperti salah seorang di antara kalian memasukkan jari ini ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa kembali oleh jarinya.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

نَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى حَصِيرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ، فَقَالَ: مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Rasulullah ﷺ pernah tidur di atas tikar. Ketika beliau bangun, tampak bekas tikar itu pada lambung beliau. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membuatkan untukmu alas tidur (yang lebih nyaman)?’ Beliau bersabda, ‘Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan meninggalkannya.'”

Setelah Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang musyrik telah tertipu oleh kesenangan kehidupan dunia, sehingga kenikmatan materi telah membutakan perasaan dan hati mereka, Allah kemudian menyebutkan akibat dari ketertipuan dan keterikatan mereka kepada materi. Mereka pun meminta kepada Nabi ﷺ agar didatangkan satu mukjizat yang bersifat fisik sebagai bukti kebenaran kenabian beliau, karena mereka tidak beriman bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang membenarkan kenabian beliau dan menjadi bukti yang pasti atasnya. Hal itu disebabkan mereka adalah kaum yang sangat materialistis, sehingga tidak ada ruang bagi seruan yang ditujukan kepada akal mereka. Orang yang mengucapkan permintaan tersebut adalah Abdullah bin Abi Umayyah beserta para pengikutnya. Maka Allah Ta’ala mengisahkan ucapan mereka:

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا…

“Dan orang-orang kafir berkata…”

Maksudnya, orang-orang musyrik Mekah berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad suatu tanda atau mukjizat yang nyata dan bersifat fisik, sebagaimana mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam?” Sebagaimana ucapan mereka yang lain:

فَلْيَأْتِنَا بِاٰيَةٍ كَمَآ اُرْسِلَ الْاَوَّلُوْنَ

Maka, hendaklah dia mendatangkan kepada kami suatu tanda (mukjizat) sebagaimana rasul-rasul yang diutus terdahulu.” (Al-Anbiyā’ [21]:5)

Padahal Allah Mahakuasa untuk memenuhi apa yang mereka minta. Akan tetapi, disebutkan dalam sebuah hadis:

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya ketika orang-orang musyrik meminta agar Bukit Shafa dijadikan emas untuk mereka, dipancarkan mata air, dan gunung-gunung di sekitar Mekah disingkirkan sehingga tempatnya menjadi padang rumput dan kebun-kebun: ‘Jika engkau menghendaki, wahai Muhammad, Aku akan mengabulkan permintaan mereka. Namun jika setelah itu mereka tetap kafir, niscaya Aku akan mengazab mereka dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada seorang pun dari seluruh alam. Dan jika engkau menghendaki, Aku akan membukakan bagi mereka pintu tobat dan rahmat.’ Maka beliau bersabda, ‘Bahkan bukakanlah bagi mereka pintu tobat dan rahmat.'”

Allah Ta’ala membantah mereka dengan menjelaskan bahwa diturunkannya mukjizat tidaklah menentukan seseorang memperoleh hidayah atau tetap dalam kesesatan. Semua urusan itu berada di tangan Allah. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).'”

Maksudnya, betapa besar sikap keras kepala dan penentangan kalian terhadap kebenaran. Turunnya berbagai mukjizat tidak akan memberi manfaat jika Allah tidak menghendaki hidayah bagi kalian. Orang yang tetap bersikeras dan membangkang dalam kekafirannya tidak akan memperoleh petunjuk, sekalipun seluruh mukjizat diturunkan kepadanya. Sebab, hidayah dan kesesatan sepenuhnya berada di tangan Allah.

Sebagaimana Allah telah membiarkan kalian sesat setelah menurunkan berbagai mukjizat dan menghalangi kalian untuk menjadikannya sebagai petunjuk, demikian pula Dia akan membiarkan kalian sesat meskipun mukjizat-mukjizat lainnya diturunkan. Sebaliknya, Dia memberi petunjuk kepada-Nya (وَيَهْدِي إِلَيْهِ) orang yang kembali (مَنْ أَنَابَ), yaitu orang yang meninggalkan sikap keras kepala dan menerima kebenaran, atau menerima Islam, atau kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kata ganti pada firman-Nya, ﴿إِلَيْهِ﴾ kembali kepada salah satu dari tiga makna tersebut, yaitu: Allah memberi petunjuk menuju agama-Nya dan ketaatan kepada-Nya kepada orang yang kembali kepada-Nya dengan hatinya.

Makna ayat ini juga ditegaskan oleh banyak ayat lain, di antaranya firman Allah Ta’ala:

وَلَوْ اَنَّنَا نَزَّلْنَآ اِلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْٓا اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ

Seandainya Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka (sebagai saksi kebenaran Rasul), orang yang telah mati pun (Kami hidupkan kembali lalu) berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Namun, kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat ini). (Al-An‘ām [6]:111)

Dan firman-Nya:

وَمَا تُغْنِى الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ

Tidaklah berguna tanda-tanda (kebesaran Allah) dan peringatan-peringatan itu (untuk menghindarkan azab Allah) dari kaum yang tidak beriman. (Yūnus [10]:101)

Dan firman-Nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ * وَلَوْ جَاۤءَتْهُمْ كُلُّ اٰيَةٍ حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti mendapatkan ketentuan Tuhanmu (menjadi kufur atas pilihan sendiri) itu tidak akan beriman. Meskipun semua tanda-tanda (kebesaran Allah) datang kepada mereka, (mereka tidak juga beriman) hingga mereka menyaksikan azab yang sangat pedih. (Yūnus [10]:96-97)

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang yang berhak memperoleh hidayah. Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.”

Maksudnya, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Hati mereka menjadi tenang dengan mentauhidkan Allah dan mempercayai janji-Nya, karena merasa akrab dengan-Nya, bersandar kepada-Nya, dan berharap hanya kepada-Nya. Dengan mengingat Allah, mentadabburi ayat-ayat-Nya, dan mengenal kesempurnaan kekuasaan-Nya berdasarkan ilmu dan keyakinan yang benar, hati orang-orang beriman menjadi tenteram. Kegelisahan dan kegoncangan pun hilang dari hati mereka karena cahaya iman yang telah tertanam di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ

Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. (Az-Zumar [39]:23)

Seorang mukmin, apabila mengingat azab Allah, akan merasa takut, sebagaimana firman-Nya:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya. (Al-Anfāl [8]:2)

Dan apabila seorang mukmin mengingat janji Allah berupa pahala dan rahmat, hatinya menjadi tenteram dan jiwanya menjadi tenang. Sebagaimana firman-Nya:

وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal. (Al-Anfāl [8]:2)

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan balasan bagi orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”

Maksudnya, bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, tersedia kehidupan yang baik, kenikmatan, segala kebaikan, pahala yang indah, serta tempat kembali yang sebaik-baiknya.

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang dimaksud dengan ṭūbā adalah surga. Dalam riwayat lain dari beliau disebutkan bahwa ṭūbā adalah sebuah pohon di surga. Pendapat yang dipilih oleh Al-Qurthubi adalah bahwa ṭūbā merupakan sebuah pohon di surga. Beliau berkata, “Pendapat yang benar adalah bahwa ṭūbā adalah sebuah pohon.”

Hal itu berdasarkan hadis marfu’ yang diriwayatkan dari ‘Utbah bin ‘Abd As-Sulami, yang dinilai sahih oleh As-Suhaili, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

نَعَمْ شَجَرَةٌ تُدْعَى طُوبَى

“Benar, (ṭūbā itu) adalah sebuah pohon yang disebut Ṭūbā.”

Demikian pula berdasarkan hadis marfu’ dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

طُوبَى: شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ، مَسِيرَةُ مِائَةِ سَنَةٍ، ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا

“Ṭūbā adalah sebuah pohon di surga. (Naungan atau bentangannya) sejauh perjalanan seratus tahun, dan pakaian penghuni surga keluar dari kelopak-kelopaknya.”

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ، لَا يَقْطَعُهَا

“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang naungannya ditempuh oleh seorang pengendara selama seratus tahun, namun ia tidak dapat melintasinya.”

Hal itu sama sekali tidak mustahil bagi karunia maupun kekuasaan Allah. Sebab, di dalam surga terdapat kenikmatan-kenikmatan yang berada di luar jangkauan akal manusia. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh seluruh penulis kitab hadis kecuali An-Nasa’i, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Di dalam surga terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”

Fiqih kehidupan atau Hukum-Hukum:

Ayat-ayat ini menunjukkan beberapa pelajaran, di antaranya:

  1. Allah Ta’ala adalah Pemberi rezeki. Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki, sesuai dengan hikmah dan keadilan-Nya.
  2. Orang-orang kafir dan semua orang yang berpandangan materialistis bergembira dengan kehidupan dunia semata. Mereka tidak mengenal selain kehidupan dunia dan tidak mengetahui berbagai karunia, nikmat, serta kebaikan yang Allah sediakan di sisi-Nya.
  3. Kehidupan dunia jika dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan yang sementara, sedikit nilainya, dan sangat cepat lenyap.
  4. Meminta para rasul untuk mendatangkan mukjizat-mukjizat tambahan merupakan bentuk kebodohan, padahal mereka telah menyaksikan satu mukjizat yang sudah mencukupi seluruh mukjizat lainnya, yaitu Al-Qur’an, yang menjadi bukti kebenaran risalah, kenabian, wahyu, dan bahwa ia benar-benar merupakan kalam Allah.
  5. Rezeki tidak berkaitan dengan keimanan maupun kekafiran. Allah dapat melapangkan rezeki bagi orang kafir sebagai bentuk istidraj, dan menyempitkannya bagi orang mukmin sebagai ujian dan cobaan.
  6. Hidayah dan kesesatan berasal dari Allah, namun manusia juga memiliki peran dalam keduanya. Orang kafir memilih untuk membangkang, menentang, dan tidak beriman, sehingga Allah tidak memberinya hidayah. Adapun orang yang beriman dan beramal saleh, maka Allah menambahkan hidayah kepadanya.
  7. Bagi orang-orang beriman yang beramal saleh disediakan surga, berbagai kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan, dan tempat kembali yang terbaik. Hal ini menjadi dorongan untuk menaati Allah serta peringatan agar menjauhi maksiat dan siksa serta tempat kembali yang buruk.

Leave a Comment