Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَۚ * وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُمْ يُجَادِلُوْنَ فِى اللّٰهِ ۚوَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَالِۗ* لَهٗ دَعْوَةُ الْحَقِّۗ وَالَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ لَا يَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ اِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ اِلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهٖۗ وَمَا دُعَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ * وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّظِلٰلُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ ۩
Dialah yang memperlihatkan kepadamu kilat (untuk menimbulkan) ketakutan dan harapan (akan turun hujan) serta menjadikan awan yang berat (mendung). Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Maha Keras hukuman-Nya. Hanya bagi Allahlah seruan yang hak. (Sesembahan) yang mereka seru selain Dia, tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, kecuali seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya, padahal (air) itu tidak akan sampai ke mulutnya. Tidaklah seruan orang-orang kafir itu kecuali dalam kesia-siaan. Hanya kepada Allahlah siapa saja yang ada di langit dan di bumi bersujud, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa. (Bersujud pula kepada-Nya) bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang hari. (Ar-Ra‘d [13]:12-15)
I‘rāb
{خَوْفًا وَطَمَعًا}
Keduanya merupakan maf‘ūl li-ajlih (objek yang menerangkan sebab/tujuan), dengan perkiraan adanya mudhaf yang dihapus, yaitu:
إرادةَ خوفٍ وطمعٍ
“karena menghendaki rasa takut dan harapan.”
Atau bisa juga menjadi ḥāl (keterangan keadaan) dari:
البرق (kilat), atau
dari المخاطبين (orang-orang yang diajak bicara),
yakni dalam keadaan:
خائفين وطامعين
“dalam keadaan takut dan berharap.”
{وَالَّذِينَ يَدْعُونَ}
Kata {الَّذِينَ} adalah kata sambung penghubung (“orang-orang yang”).
Sedangkan {يَدْعُونَ} adalah kalimat penjelas bagi kata tersebut.
Adapun kata ganti yang kembali kepada “orang-orang yang” dihapus. Perkiraan kalimat lengkapnya adalah:
يدعونهم
“mereka menyeru mereka.”
Sebagaimana penghapusan seperti ini juga terdapat pada firman Allah:
{إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ}
[الأعراف: 194]
yakni maknanya:
تدعونهم
“kalian menyeru mereka.”
{كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ}
Huruf kāf (huruf yang berarti “seperti”) pada frasa ini berkaitan dengan sifat bagi sebuah kata benda yang dihapus. Perkiraan makna lengkapnya:
الاستجابة كاستجابة باسط كفّيه
“pengabulan itu seperti pengabulan terhadap orang yang membentangkan kedua telapak tangannya.”
Berdasarkan perkiraan ini, huruf kāf dianggap sebagai huruf yang mengandung kata ganti tersembunyi yang asalnya berpindah dari kata:
كائنة
“yang terjadi” atau “yang ada.”
Dan boleh juga huruf kāf dipahami sebagai kata benda yang bermakna:
مثل
“semisal” atau “seperti.”
Sehingga maknanya:
“pengabulan itu seperti pengabulan orang yang membentangkan kedua telapak tangannya.”
Dalam pendapat ini, tidak ada kata ganti tersembunyi pada huruf kāf.
Dan bentuk pengecualian dalam susunan kalimat Arab bisa berasal dari: kata kerja, kata benda bermakna pekerjaan, keterangan waktu/tempat, atau keterangan keadaan.
{لِيَبْلُغَ فَاهُ}
Huruf lām pada kata {لِيَبْلُغَ} berkaitan dengan kata:
باسط
“orang yang membentangkan.”
Balaghah
Terdapat ṭibāq (gaya bahasa antonim/perlawanan makna) antara:
{خَوْفًا وَطَمَعًا}
“rasa takut dan harapan”
dan antara:
{طَوْعًا وَكَرْهًا}
“dengan sukarela dan terpaksa.”
Penggunaan dua kata yang saling berlawanan ini memperkuat makna dan memberikan penegasan yang indah dalam susunan ayat.
{إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ}
Ini merupakan tasybīh tamṡīlī (perumpamaan berbentuk gambaran keadaan).
Keadaan orang-orang kafir ketika berdoa kepada berhala diserupakan dengan seseorang yang ingin mengambil air untuk diminum dengan membentangkan kedua telapak tangannya.
Atau maknanya:
Tidak terkabulnya permintaan orang-orang yang berdoa kepada berhala diserupakan dengan air yang tidak mungkin mencapai orang yang membentangkan kedua tangannya dari kejauhan.
Artinya, sebagaimana air tidak akan sampai hanya dengan membentangkan tangan tanpa benar-benar mengambilnya, demikian pula berhala tidak mampu memberi manfaat ataupun menjawab doa orang-orang yang memohonnya.
Kosakata Bahasa (Al-Mufradāt Al-Lughawiyyah)
{الْبَرْقَ}
“Kilat,” yaitu cahaya menyala yang tampak di langit akibat benturan benda-benda langit.
{خَوْفًا وَطَمَعًا}
Yakni:
untuk menimbulkan rasa takut terhadap sambaran petir, dan menimbulkan harapan akan turunnya hujan.
Dalam ungkapan ini terdapat kata yang dihapus. Perkiraan maknanya:
“kehendak untuk menimbulkan rasa takut dan harapan,” atau “menakut-nakuti dan memberi harapan.”
Bisa juga dipahami sebagai keterangan keadaan, yaitu: “dalam keadaan takut dan berharap.”
Penggunaan bentuk masdar (kata dasar pekerjaan) dengan makna: objek (yang ditakuti / yang diharapkan), atau pelaku (orang yang takut / berharap), bertujuan untuk memberikan penegasan dan penguatan makna.
Makna “takut” dan “harap” di sini adalah: manusia merasa takut akan terjadinya petir ketika kilat menyambar, dan berharap turunnya hujan darinya.
{السَّحَابَ}
“Awan,” yaitu gumpalan awan yang bergerak dan melayang di udara.
{الثِّقَالَ}
“Yang berat,” maksudnya berat karena mengandung air hujan.
Kata ini adalah bentuk jamak dari:
ثقيلة
“berat” (bentuk feminin tunggal).
Sifat “berat” digunakan untuk menggambarkan awan karena kata السحاب termasuk kata benda jenis yang bermakna jamak.
{الرَّعْدُ}
“Guruh” atau suara yang terdengar dari balik awan akibat gesekan benda-benda langit.
Penjelasannya:
kilat muncul akibat terbakarnya udara oleh percikan cahaya, kilat itu terjadi karena benturan antara dua awan yang berbeda muatan listrik, kemudian akibat pelepasan dan dorongan udara yang ditimbulkan oleh kilat tersebut, terjadilah gesekan udara yang menghasilkan suara guruh.
{الصَّوَاعِقَ}
Bentuk jamak dari: صاعقة “petir yang menyambar.”
Yaitu sambaran yang terjadi akibat gesekan listrik antara muatan listrik awan dan muatan listrik bumi ketika awan mendekat ke permukaan bumi. Dari proses itu muncul sambaran petir yang membakar apa saja yang terkena olehnya.
{وَهُمْ يُجَادِلُونَ}
Yakni orang-orang kafir membantah dan mendebat Nabi Muhammad ﷺ tentang Allah Ta‘ālā.
Adapun:
الجدل
berarti perdebatan dan pertentangan yang sangat keras.
{الْمِحَالِ}
Artinya: kekuatan yang sangat besar, atau kemampuan Allah dalam menghukum dan menimpakan azab kepada musuh-musuh-Nya.
{لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ}
Milik Allah Ta‘ālā semata doa dan seruan yang benar.
Yang dimaksud bisa: kalimat Lā ilāha illallāh, atau doa yang benar, karena hanya Allah yang benar-benar berhak untuk disembah.
{وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ}
Yakni orang-orang yang menyembah selain Allah, yaitu berhala-berhala.
{لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ}
Berhala-berhala itu tidak mampu mengabulkan sedikit pun permintaan mereka.
{إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ}
Yakni seperti seseorang yang membentangkan kedua telapak tangannya ke arah air di tepi sumur sambil berharap air itu naik sendiri hingga sampai ke mulutnya untuk diminum.
{وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ}
Padahal air itu tidak akan pernah sampai ke mulutnya.
Demikian pula berhala-berhala tidak akan mampu mengabulkan permintaan para penyembahnya.
{وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ}
Yakni ibadah orang-orang kafir kepada berhala, atau doa mereka secara hakikat.
{إِلَّا فِي ضَلَالٍ}
Tidaklah itu kecuali: kesia-siaan, kerugian, dan kebatilan.
{وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا}
Ayat ini mengandung dua kemungkinan makna:
- Sujud dalam makna sebenarnya
Yakni seluruh makhluk bersujud kepada Allah secara hakiki.
Para malaikat dan orang-orang beriman dari kalangan manusia dan jin bersujud kepada-Nya dengan sukarela, baik dalam keadaan sempit maupun lapang.
Sedangkan orang-orang kafir bersujud kepada-Nya secara terpaksa ketika berada dalam keadaan sulit dan darurat.
Adapun orang-orang munafik termasuk dalam golongan kafir; mereka bersujud dalam keadaan terpaksa.
- Sujud dalam makna tunduk dan patuh
Maksudnya seluruh makhluk tunduk kepada ketetapan Allah dalam segala yang Allah kehendaki terjadi pada diri mereka.
Baik mereka mau maupun tidak, mereka tidak mampu menolak kehendak Allah Ta‘ālā.
{وَظِلَالُهُمْ}
Bentuk jamak dari: ظلّ “bayangan.”
Yaitu bayangan yang muncul pada benda ketika terkena sinar matahari.
Maksud ayat: bayangan mereka pun turut bersujud, atau tunduk dan patuh kepada kehendak Allah, karena bayangan itu bergerak sesuai ketetapan Allah: memanjang, memendek, berpindah, dan menghilang.
{بِالْغُدُوِّ}
Bentuk jamak dari: غداة yaitu waktu pagi di awal siang hari.
{وَالْآصَالِ}
Bentuk jamak dari: أصيل yaitu waktu setelah Ashar hingga menjelang Maghrib.
Sebab Turunnya Ayat
Turunnya ayat (13):
{وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ}
Para perawi menyebutkan dua sebab turunnya ayat ini.
Ath-Ṭabarānī dan selain beliau meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallahu ‘anhuma:
Bahwa Arbad bin Qais dan Amir bin Tufail datang ke Madinah menemui Rasulullah ﷺ.
Amir berkata: “Wahai Muhammad, apa yang akan engkau berikan kepadaku jika aku masuk Islam?”
Rasulullah ﷺ menjawab: “Engkau mendapatkan hak yang sama seperti kaum muslimin, dan memiliki kewajiban yang sama seperti mereka.”
Amir berkata: “Apakah engkau akan menjadikan kekuasaan setelahmu untukku?”
Rasulullah ﷺ menjawab: “Itu bukan untukmu dan bukan pula untuk kaummu.”
Maka keduanya keluar. Lalu Amir berkata: “Aku akan menyibukkan Muhammad dengan pembicaraan, maka bunuhlah dia dengan pedang.”
Kemudian mereka kembali. Amir berkata: “Wahai Muhammad, berdirilah bersamaku agar aku dapat berbicara denganmu.”
Maka Rasulullah ﷺ berdiri bersamanya dan berbicara dengannya. Saat itu Arbad mencabut pedangnya. Namun ketika ia meletakkan tangannya pada gagang pedang, tangannya menjadi kaku dan tidak mampu bergerak.
Lalu Rasulullah ﷺ menoleh dan melihatnya, sehingga beliau meninggalkan keduanya.
Mereka pun pergi. Ketika sampai di suatu tempat bernama Ar-Raqm, Allah mengirimkan petir yang menyambar Arbad hingga membunuhnya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
{اللهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَى}
hingga firman-Nya:
{شَدِيدُ الْمِحَالِ}
Adapun Amir, Allah menimpakan penyakit tha‘un kepadanya hingga muncul benjolan besar seperti benjolan pada unta, lalu ia meninggal di rumah seorang wanita dari Bani Salul.
Al-Wāḥidī juga menyebutkan riwayat yang dibawakan oleh Abu Ya’la Al-Maushili dalam kitab Musnad-nya, serta oleh An-Nasa’i dan Al-Bazzar, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus seorang laki-laki kepada salah seorang pembesar Arab yang sangat sombong. Beliau ﷺ bersabda: “Pergilah dan ajak dia kepadaku.”
Orang itu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia lebih keras dan sombong daripada itu.”
Beliau ﷺ tetap bersabda: “Pergilah dan ajak dia kepadaku.”
Maka ia pun mendatanginya dan berkata: “Rasulullah ﷺ memanggilmu.”
Orang itu berkata: “Apa itu Allah? Apakah Dia terbuat dari emas, perak, atau tembaga?”
Maka utusan itu kembali kepada Rasulullah ﷺ dan memberitahukan perkataannya seraya berkata: “Aku sudah memberitahumu, wahai Rasulullah, bahwa dia sangat keras dan sombong.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Kembalilah kepadanya untuk kedua kalinya dan ajak dia.”
Maka ia kembali lagi, namun orang itu mengulangi ucapan yang sama seperti sebelumnya. Utusan itu kembali kepada Nabi ﷺ dan memberitahukannya.
Beliau ﷺ bersabda: “Kembalilah kepadanya.”
Maka ia mendatanginya untuk ketiga kalinya. Orang itu kembali mengucapkan perkataan yang sama.
Ketika ia sedang berbicara denganku, tiba-tiba datang awan tepat di atas kepalanya. Awan itu bergemuruh, lalu turun darinya sambaran petir yang menghantam dan menghancurkan kepalanya.
Maka Allah Ta‘ālā menurunkan firman-Nya:
وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ
“Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Maha Keras hukuman-Nya.” 1
Keterkaitan Ayat (Al-Munāsabah)
Setelah Allah Ta‘ālā memperingatkan hamba-hamba-Nya bahwa apabila Dia menghendaki keburukan bagi suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, Allah kemudian mengiringinya dengan ayat-ayat ini yang mengandung tiga perkara.
Ayat-ayat tersebut merupakan bukti atas kekuasaan Allah dan hikmah-Nya.
Pada satu sisi, ayat-ayat itu menggambarkan: nikmat, karunia, dan kebaikan Allah.
Namun pada sisi lain, ayat-ayat itu juga menggambarkan: azab, kekuasaan yang menundukkan, dan hukuman Allah.
Tafsir dan penjelasan:
Allah Ta‘ala-lah yang menundukkan kilat, yaitu cahaya terang yang tampak berkilau dari sela-sela awan, disebabkan oleh kedekatan dua awan yang berbeda muatan listriknya. Dia memperlihatkan kilat itu kepada kalian sebagai rasa takut, sehingga musafir dan petani yang telah mengumpulkan biji-biji hasil panennya di tempat penjemuran merasa khawatir karenanya. Setiap manusia pun waspada terhadap akibat-akibatnya, seperti sambaran yang dapat menyambar penglihatan, atau datangnya banjir besar yang menghanyutkan. Dan juga sebagai harapan, yaitu agar orang yang membutuhkan hujan mengharapkan manfaat darinya untuk menyirami tanaman dan pepohonannya, serta membersihkan udara dari debu, pasir, asap, dan kuman.
Maka manusia dalam menghadapi fenomena-fenomena umum terbagi menjadi dua golongan: ada yang bergembira dan berharap kebaikan darinya bagi dirinya, dan ada pula yang pesimis, merasa sempit dan bermuka masam karena keburukan atau mudarat yang menimpanya darinya.
{وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ}
Artinya: Allah Subhanahu wa Ta‘ala-lah yang menciptakan awan-awan yang berat, yaitu awan yang sarat dan penuh dengan kandungan air. Karena banyaknya air yang dibawanya, awan itu menjadi berat dan dekat ke permukaan bumi.
Mujahid berkata:
“As-sahāb ats-tsiqāl adalah awan yang di dalamnya terdapat air.”
{وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ}
Artinya: guruh bertasbih dengan memuji-Nya, yaitu bahwa guruh dengan bahasa keadaan, bukan dengan bahasa ucapan, menyucikan Sang Pencipta dari sekutu dan kelemahan, serta menyatakan ketundukan dan kepatuhannya kepada kekuasaan dan hikmah-Nya, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:
{وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ}
“Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (Al-Isra’: 44).
{وَتُسَبِّحُ الْمَلَائِكَةُ}
Dan para malaikat pun bertasbih kepada Rabb mereka dan menyucikan-Nya dari memiliki istri dan anak, karena rasa takut dan pengagungan mereka kepada-Nya.
{وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ}
Dan Allah mengirimkan petir-petir sebagai hukuman, yang dengannya Dia membinasakan siapa saja yang Dia kehendaki. Karena itu, petir akan semakin banyak terjadi pada akhir zaman.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi ﷺ bersabda:
تكثر الصواعق عند اقتراب الساعة، حتى يأتي الرجل القوم، فيقول: من صعق قبلكم الغداة، فيقولون: صعق فلان وفلان وفلان
“Petir-petir akan semakin banyak ketika kiamat semakin dekat, hingga ada seseorang mendatangi suatu kaum lalu berkata: ‘Siapa yang tersambar petir di antara kalian pagi ini?’ Mereka menjawab: ‘Si Fulan, si Fulan, dan si Fulan.’”
{وَكُلٌّ مِنَ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ}
Dan masing-masing dari guruh dan kilat itu bisa menjadi pembawa kabar baik atau pemberi peringatan akan keburukan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk berdoa ketika melihat keduanya.
Al-Bukhari dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Salim bin Abdullah dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ apabila mendengar guruh dan petir, beliau berdoa:
اللهم لا تقتلنا بغضبك ولا تهلكنا بعذابك، وعافنا قبل ذلك
“Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan kemurkaan-Mu, janganlah Engkau membinasakan kami dengan azab-Mu, dan berilah kami keselamatan sebelum itu.”
Dan disunnahkan ketika melihat kilat dan guruh untuk membaca:
{هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا، وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ، وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ}
“Dialah yang memperlihatkan kepadamu kilat (untuk menimbulkan) ketakutan dan harapan (akan turun hujan) serta menjadikan awan yang berat (mendung). Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya.”
Malik bin Anas meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ dari Abdullah bin az-Zubair bahwa beliau apabila mendengar guruh, beliau menghentikan pembicaraan lalu berkata:
سبحان الذي يسبح الرعد بحمده، والملائكة من خيفته
“Mahasuci Allah yang guruh bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat pun karena rasa takut kepada-Nya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau apabila mendengar guruh, beliau berkata:
سبحان من يسبح الرعد بحمده
“Mahasuci Allah yang guruh bertasbih dengan memuji-Nya.”
Aban meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
لا تأخذ الصاعقة ذاكرا الله عز وجل
“Petir tidak akan menyambar orang yang sedang mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.”
Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi ﷺ apabila mendengar suara guruh, beliau berkata:
سبحان من يسبح الرعد بحمده والملائكة من خيفته، وهو على كل شيء قدير فإن أصابته صاعقة، فعليّ ديته
“Mahasuci Allah yang guruh bertasbih dengan memuji-Nya dan para malaikat karena rasa takut kepada-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Kemudian beliau bersabda:
“Jika orang itu tersambar petir, maka akulah yang menanggung diyatnya.”
{وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ}
Dan meskipun terdapat dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah dan ketuhanan-Nya, orang-orang kafir tetap membantah dan meragukan keagungan Allah Ta‘ala dan bahwa tidak ada ilah selain Dia.
Mujahid berkata:
“Seorang Yahudi pernah membantah Nabi ﷺ dan bertanya kepada beliau tentang Allah Ta‘ala: ‘Dari apakah Dia?’”
{وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ}
Dan Dia Mahasangat keras kekuatan dan siksa-Nya. Al-mumāhalah yaitu sangat keras dalam melakukan makar dan tipu daya terhadap musuh-musuh-Nya. Maka Dia mengatur tipu daya bagi mereka untuk menurunkan hukuman yang keras kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari.
Dikatakan: “Tamaḥḥala untuk sesuatu” apabila seseorang memaksakan diri menggunakan tipu daya dan bersungguh-sungguh di dalamnya.
Dan Dia Mahakuasa untuk menurunkan azab dari atas kalian maupun dari bawah kaki kalian:
فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ اَنَّا دَمَّرْنٰهُمْ وَقَوْمَهُمْ اَجْمَعِيْنَ
Perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka bahwa sesungguhnya Kami membinasakan mereka dan semua kaumnya. (An-Naml [27]:51)
وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ
Demikianlah siksaan Tuhanmu apabila Dia mengazab (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya siksaan-Nya sangat pedih lagi sangat berat. (Hūd [11]:102)
Dan dalam hal ini terdapat hiburan bagi Nabi ﷺ, karena mereka tidak hanya terbatas pada pengingkaran terhadap kenabian beliau, bahkan mereka melampaui itu hingga mengingkari ketuhanan.
{لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ}
Artinya: hanya milik Allah Ta‘ala doa yang benar, yaitu doa, permohonan, dan ketundukan yang benar, bukan milik selain-Nya dari berhala-berhala, patung-patung, malaikat, dan manusia yang dijadikan sebagai sesembahan.
Ibnu Abbas, Qatadah, dan selain keduanya berkata:
“Da‘watul-haqq adalah kalimat tauhid: ‘Lā ilāha illallāh’, yaitu bahwa Allah berhak atas makhluk-Nya agar mereka mentauhidkan-Nya dan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya.”
Disebutkan dalam Al-Kasysyaf dua sisi penafsiran untuk ayat ini:
Pertama, penyandaran “ad-da‘wah” kepada “al-haqq” yang merupakan lawan dari kebatilan, yaitu bahwa dakwah Islam adalah dakwah yang benar dan khusus milik-Nya.
Kedua, penyandaran “ad-da‘wah” kepada “al-Haqq” yaitu Allah ‘Azza wa Jalla, artinya doa itu ditujukan kepada Allah Yang Maha Benar, Yang mendengar lalu mengabulkan.2
Ini serta yang sebelumnya merupakan ancaman bagi orang-orang kafir karena mereka membantah Rasulullah ﷺ mengenai ancaman azab yang beliau peringatkan kepada mereka.
Abu Hayyan berkata tentang firman-Nya: {لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ}:
“Yang tampak, penyandaran ini termasuk bab penyandaran maushuf kepada sifat, seperti firman-Nya: {وَلَدَارُ الْآخِرَةِ}. Perkiraannya adalah: ‘Milik Allah doa yang benar’, berbeda dengan selain-Nya, karena doa kepada selain-Nya adalah batil. Maknanya, bahwa Allah Ta‘ala, doa yang ditujukan kepada-Nya adalah doa yang benar. Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang kafir dalam menetapkan sesembahan-sesembahan selain Allah. Maka siapa yang berdoa kepada Allah, doanya itulah yang benar. Berbeda dengan berhala-berhala mereka yang karenanya mereka membantah tentang Allah, karena doa kepada berhala-berhala itu batil dan tidak menghasilkan apa pun.”
Kemudian Allah berfirman:
{وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ}
Artinya: orang-orang yang berdoa kepada selain Allah, yaitu kepada berhala-berhala, patung-patung, dan sesembahan-sesembahan yang batil, yaitu orang-orang musyrik, sama sekali tidak mendapat jawaban dari mereka, dan sesembahan-sesembahan itu tidak mengabulkan doa mereka, tidak mendengar seruan mereka, tidak mewujudkan manfaat bagi mereka, dan tidak menolak mudarat dari mereka.
Tidaklah pengabulan mereka itu kecuali seperti air terhadap orang yang membentangkan kedua telapak tangannya kepadanya dari kejauhan, menginginkan agar air itu sampai ke mulutnya sementara ia dalam keadaan haus. Padahal air adalah benda mati yang tidak memahami doa, tidak memenuhi seruan, dan tidak menyadarinya.
Dan diperhatikan bahwa perumpamaan ini memiliki sisi yang sangat nyata, yaitu tentang membentangkan kedua telapak tangan sebagaimana orang yang berdoa membentangkannya kepada Allah.
Maka ini adalah perumpamaan yang Allah buat untuk menunjukkan putus asanya para penyembah selain Allah dari terkabulnya doa mereka, sebagai peringatan bagi akal dan perasaan mereka. Dan orang Arab membuat perumpamaan bagi orang yang berusaha mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin diraihnya seperti orang yang menggenggam air dengan tangan.
Seorang penyair berkata:
“Maka jadilah hubungan kasih sayang antara aku dan dia,
seperti orang yang menggenggam air dengan tangan.”
{وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ}
Artinya: tidaklah ibadah orang-orang kafir kepada berhala-berhala itu kecuali berada dalam kerugian, kesesatan, dan kebatilan. Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu tidak dikabulkan, sebagaimana doa mereka kepada Allah juga tidak dikabulkan.
Kemudian Allah Ta‘ala menjelaskan kesempurnaan kekuasaan-Nya, keagungan-Nya, dan kerajaan-Nya, lalu berfirman:
{وَلِلَّهِ يَسْجُدُ}
Artinya: hanya kepada Allah segala sesuatu tunduk dan patuh, dengan sukarela dari kalangan orang-orang beriman dan para malaikat, baik dalam keadaan susah maupun lapang, dan dengan terpaksa dari orang-orang kafir dalam keadaan susah. Bahkan seluruh makhluk alam semesta, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda mati, tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta yang menciptakan dan mengadakan mereka.
Demikian pula bayang-bayang dari segala sesuatu yang memiliki bayangan—dari makhluk-makhluk yang telah disebutkan—bersujud dan tunduk kepada Allah pada waktu pagi hari dan pada akhir siang. Pengkhususan dua waktu ini disebutkan karena pada saat itulah tampak jelas memanjang dan memendeknya bayangan, atau untuk menunjukkan kesinambungan dan terus-menerus, sebagaimana lazim dalam penggunaan bahasa Arab. Sujud kepada Allah menunjukkan rububiyah-Nya, maka tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta‘ālā.
Fiqih kehidupan atau hukum-hukum yang dapat diambil
Ayat-ayat ini memberi petunjuk kepada kita tentang hal-hal berikut:
1 — Penjelasan tentang sempurnanya kekuasaan Allah Ta‘ālā, dan bahwa penundaan hukuman terhadap para pelaku maksiat bukanlah karena kelemahan. Segala yang disebutkan dalam ayat, seperti kilat, awan, guruh, dan petir, merupakan tanda-tanda nyata atas kekuasaan Allah عز وجل, dan bahwa Dia sangat dahsyat kekuatan dan siksa-Nya. Al-maḥāl atau al-mumāḥalah bermakna tipu daya, perlawanan, dan penguasaan terhadap musuh.
Misalnya, terjadinya kilat merupakan bukti yang menakjubkan atas kekuasaan Allah Ta‘ālā. Karena awan tersusun dari unsur-unsur lembap yang bersifat air, serta unsur-unsur udara dan api, sementara yang lebih dominan padanya adalah unsur air. Padahal air adalah benda yang dingin dan basah, sedangkan api adalah benda yang panas dan kering. Maka dominannya api atas air—padahal keduanya saling bertentangan—pasti menunjukkan adanya Dzat Pencipta Yang Maha Berkehendak, yang menampakkan sesuatu yang berlawanan dari lawannya.
Adapun unsur-unsur air yang terdapat pada awan, baik dikatakan bahwa ia terbentuk di lapisan udara maupun naik dari uap lautan, maka keberadaannya pasti terjadi karena diciptakan oleh Dzat Yang Mahabijaksana, Mahakuasa, dan Maha Mengadakan.
Suara guruh yang menggetarkan, yang terjadi karena benturan massa-massa udara akibat terbelahnya sebagian udara oleh kilat, juga merupakan dalil lain atas kekuasaan ilahi.
Petir-petir dahsyat yang menakutkan dan menghancurkan, yang muncul dari awan serta terjadi akibat gesekan listrik awan dengan listrik bumi, merupakan bukti yang jelas atas uluhiyah Allah dan atas adanya Dzat Yang Mahatinggi, tersucikan dari segala kekurangan dan sifat mumkin (serba mungkin/bergantung).
2 — Segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik manusia, hewan, tumbuhan, benda mati, jin, maupun malaikat, semuanya bertasbih dengan memuji-Nya. Maka guruh pun bertasbih memuji Allah, dan para malaikat juga bertasbih memuji Allah karena rasa takut, pengagungan, dan pemuliaan kepada-Nya. Tasbih adalah menyucikan Allah dari sekutu, orang tua, anak, dan pasangan, serta mengagungkan dan mensucikan-Nya. Akan tetapi, manusia tidak memahami tasbih makhluk selain mereka.
3 — Orang-orang kafir itu, meskipun telah tampak berbagai tanda yang menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah, tetap membantah tentang Allah serta meragukan keberadaan dan uluhiyah-Nya. Padahal Allah sangat dahsyat kekuatan, hukuman, dan siksa-Nya, serta Mahakuasa menundukkan orang-orang yang ragu dan membantah dengan kebatilan.
4 — Hanya milik Allah الدعوة الحق (seruan dan doa yang benar). Maka siapa saja yang berdoa kepada-Nya, doanya itulah doa yang benar. Adapun doa kepada berhala-berhala dan semisalnya dari sesembahan-sesembahan yang diada-adakan selain Allah, maka itu adalah kebatilan yang tidak memberikan manfaat sedikit pun.
5 — Sesembahan-sesembahan yang diseru oleh orang-orang kafir selain Allah tidak mampu memenuhi permintaan siapa pun. Perumpamaan jawaban mereka hanyalah seperti air terhadap orang yang membentangkan kedua telapak tangannya kepada air agar air itu sampai ke mulutnya, padahal air adalah benda mati yang tidak menyadari siapa pun dan tidak mengetahui kebutuhan orang yang memerlukannya, serta tidak mampu menjawab seruan orang yang memanggilnya. Demikian pula sesembahan yang mereka seru itu hanyalah benda mati yang tidak merasakan doa mereka, tidak mampu mengabulkannya, dan tidak kuasa memberikan manfaat kepada mereka.
6 — Firman Allah Ta‘ālā: {وَلِلَّهِ يَسْجُدُ} menunjukkan bahwa wajib bagi seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi untuk bersujud kepada Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Maka ungkapan tentang kewajiban itu dinyatakan dengan bentuk وقوع dan حصول (terjadinya dan terealisasinya sesuatu). Atau maknanya adalah bahwa seluruh penghuni langit dan bumi mengakui penghambaan kepada Allah Ta‘ālā, sebagaimana firman-Nya:
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ
Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” (Luqmān [31]:25)
Dan ada pula yang berpendapat bahwa sujud di sini bermakna tunduk, patuh, dan tidak mampu menolak. Maka seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi bersujud kepada Allah dalam makna ini, karena kekuasaan dan kehendak-Nya berlaku dan terlaksana atas semuanya.
7 — Firman Allah Ta‘ālā: {وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ} menunjukkan bahwa setiap orang, baik mukmin maupun kafir, maka bayangannya tetap bersujud kepada Allah. Mujahid berkata: “Bayangan seorang mukmin bersujud kepada Allah dengan sukarela, sementara ia sendiri taat. Sedangkan bayangan orang kafir bersujud kepada Allah secara terpaksa, sementara ia sendiri membencinya.”
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sujudnya bayang-bayang makhluk adalah condongnya bayangan itu dari satu sisi ke sisi yang lain, serta berubah-ubah panjang dan pendeknya karena turunnya dan naiknya matahari. Maka bayang-bayang itu tunduk dan patuh dalam perubahan panjang, pendek, dan perpindahannya dari satu sisi ke sisi lainnya.
Pengkhususan waktu pagi dan petang disebutkan karena pada dua waktu itulah bayang-bayang tampak lebih panjang dan lebih banyak.
- Asbābun Nuzūl karya Al-Wahidi hlm. 156, Tafsīr Ibnu Katsīr 2/505, Tafsīr Al-Qurṭubī 9/296–298, Al-Kasysyāf 2/162. ↩︎
- Dalam Al-Kasysyaf (2/162), Abu Hayyan berkata:
“Sisi penafsiran kedua yang disebutkan Az-Zamakhsyari ini tidak tampak kuat, karena konsekuensinya kembali kepada perkiraan makna: ‘Allah adalah doa Allah’, dan susunan seperti ini tidak benar.”
Al-Bahr al-Muhith (5/376). ↩︎