Tadabbur QS. Ibrahim Ayat 5

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

Sungguh Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan (membawa) tanda-tanda (kekuasaan) Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), “Keluarkanlah kaummu dari berbagai kegelapan kepada cahaya (terang-benderang) dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah.” Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur. (Ibrāhīm [14]:5)

Tadabbur

  1. Mengingat Nikmat Adalah Obat Kelalaian

Barang siapa melupakan hari-hari Allah, ia telah melupakan nikmat-nikmat-Nya. Dan barang siapa mengingat nikmat-nikmat-Nya, ia mengetahui bahwa dirinya tidak berdiri dengan dirinya sendiri; melainkan Rabb-nya yang menegakkannya.

وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ

Dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah. (Ibrāhīm [14]:5)

Dalam ayat tersebut, Nabi Musa diperintahkan untuk mengingatkan Bani Israil mengenai hari – hari di mana Allah menyelamatkan mereka dari Fir’aun, membelah laut untuk mereka, menaungi mereka dengan awan, dan memberi mereka manna serta salwa.

Pelajarannya, mengingat nikmat – nikmat masa lalu adalah cara agar hati tidak menganggap nikmat hari ini sebagai sesuatu yang muncul dengan sendirinya. Semuanya adalah karunia Allah ta’ala.

  1. Kesulitan dan Kelapangan Sama – Sama Merupakan Pintu Menuju Allah

Jangan mengira bahwa jalan menuju Allah hanya dibukakan dalam kelapangan tanpa kesulitan. Betapa banyak kesulitan yang membukakan pintu kesabaran, dan betapa banyak kelapangan yang membukakan pintu kesyukuran.

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur. (Ibrāhīm [14]:5)

Allah tidak hanya memuji orang yang sabar ketika tertimpa kesulitan, tetapi juga orang yang bersyukur ketika mendapatkan kelapangan.

  1. Nikmat Yang Tidak Melahirkan Syukur Bisa Menjadi Hijab

Betapa banyak nikmat yang mewariskan kelalaian kepada kita, dan betapa banyak musibah yang mewariskan kedekatan. Maka jangan hanya memandang bentuk pemberian dan penahanan; pandanglah apa yang masing-masing keduanya wariskan kepada kita dari Allah.

Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan, dan hal itu tidaklah dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Leave a Comment